“Anak Asyik Main Gadget Sepuasnya?Hati-hati, Pola Asuh Permisif Bisa Jadi Penyebabnya!”

Syifa Zaenatul Hamidah-NPM(3122000022)-Mahasiswa Psikologi UIMA Semester 6

Pernah lihat anak kecil asyik main gadget berjam-jam tanpa diminta berhenti, maunya nonton YouTube terus, main game nggak berhenti, dan langsung ngambek kalau diminta berhenti. Banyak orang tua bingung, “Ini anak kecanduan gadget atau kita yang kurang tegas, ya?”

Tapi, tahukah kamu bahwa hal ini bukan cuma soal anaknya saja, melainkan bisa jadi karena gaya pengasuhan orang tuanya?

Penelitian yang dilakukan oleh Syifa Zaenatul Hamidah, mahasiswa Psikologi dari Universitas Indonesia Maju, mengenai Pengaruh Gaya Pengasuhan Permisif terhadap Penggunaan Gadget Pada Anak Usia Dini. Penelitian ini mencari tahu apakah gaya pengasuhan permisif memiliki pengaruh terhadap penggunaan gadget pada anak usia dini. Gaya pengasuhan permisif adalah pola asuh yang memberi banyak kebebasan pada anak tanpa batasan atau bimbingan yang cukup. Anak dibolehkan memilih sendiri apa yang ia lakukan, kapan harus berhenti, dan terkadang dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan. Dalam konteks gadget, ini bisa berarti anak bebas menonton YouTube atau bermain game kapan pun dia mau.

Penelitian ini dilakukan di Kedusunan Sindanglaka, Cianjur, dan melibatkan 25 orang tua yang memiliki anak usia 0–6 tahun. Hasilnya, Ternyata tidak semua orang tua bersikap permisif. Mayoritas justru menerapkan pola asuh yang cukup terkontrol dan membatasi penggunaan gadget anak. Hal ini tercermin dari data bahwa 76% orang tua berada pada kategori gaya pengasuhan permisif rendah, dan 92% anak juga memiliki penggunaan gadget yang rendah.

Menariknya, saat dilakukan uji statistik untuk melihat apakah ada pengaruh antara gaya pengasuhan permisif dan perilaku penggunaan gadget anak, hasilnya menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan. Hanya sekitar 14,4% variasi penggunaan gadget yang bisa dijelaskan oleh gaya pengasuhan permisif. Artinya, meskipun secara teori gaya asuh permisif bisa menyebabkan anak lebih bebas main gadget, pada kenyataannya masih banyak faktor lain yang lebih dominan, seperti lingkungan keluarga, akses terhadap teknologi, hingga rutinitas harian anak.

Hasil ini menjadi pengingat bahwa parenting atau gaya pengasuhan bukan satu-satunya faktor yang membentuk kebiasaan anak terhadap gadget. Namun, itu bukan berarti orang tua boleh lepas tangan. Memberi batasan waktu, mendampingi saat anak bermain, serta mengenalkan aktivitas fisik atau sosial yang menyenangkan tetap penting dilakukan. Gadget bisa bermanfaat jika digunakan dengan tepat, dan orang tua punya peran utama dalam memastikan itu.

Jadi, kalau kamu punya adik, keponakan, atau bahkan anak sendiri yang mulai kecanduan gadget, yuk refleksi bareng, bagaimana sebenarnya pola interaksi kita dengan anak? Sudahkah kita menyediakan waktu untuk bermain bersama tanpa layar? Sudahkah kita menjadi contoh yang bijak dalam menggunakan gadget?

Karena pada akhirnya, anak belajar bukan hanya dari apa yang kita ucapkan, tapi dari apa yang kita biasakan.

Ditulis ulang dari hasil penelitian Syifa Zaenatul Hamidah, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia Maju.

About evan

Leave a Reply

Your email address will not be published.