Depok – Universitas Indonesia Maju (UIMA) melalui Dosen dan Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan kembali melanjutkan program pengabdian kepada masyarakat (Pengmas) di TK Tekaku, Cinere, Kota Depok (Rabu, 17/9). Setelah tahap pertama sukses dilaksanakan, kegiatan kini memasuki kunjungan kedua dengan fokus utama membekali guru PAUD keterampilan dalam melakukan Skrining Perkembangan Anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Kunjungan kedua ini menjadi momentum penting, sebab guru PAUD kerap berada di garis terdepan dalam mengamati tumbuh kembang anak. Melalui pelatihan ini, mereka tidak hanya dibekali teori, tetapi juga kesempatan praktik menggunakan alat skrining resmi, sehingga dapat mengenali potensi keterlambatan perkembangan sejak dini. Deteksi dini ini krusial, karena intervensi yang dilakukan lebih awal terbukti mampu meningkatkan kualitas perkembangan anak secara signifikan.

Materi inti pada kunjungan kedua disampaikan oleh Ns. Nur Eni Lestari, Sp.Kep.An., dosen sekaligus pakar keperawatan anak yang consent dalam bidang tumbuh kembang. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa guru PAUD memiliki peran vital sebagai mitra keluarga dan tenaga kesehatan dalam pemantauan perkembangan anak usia dini. “Instrumen KPSP dirancang sederhana agar dapat digunakan oleh berbagai pihak, termasuk guru PAUD. Harapannya, dengan keterampilan ini guru mampu melakukan deteksi dini sebelum masalah perkembangan anak menjadi lebih kompleks,” ujarnya.
Kegiatan dimulai dengan pre-test untuk mengukur kemampuan awal para peserta, yakni guru-guru PAUD dari TK Tekaku. Pre-test ini bertujuan mengetahui seberapa jauh pemahaman mereka tentang indikator perkembangan anak. Hasil pre-test akan dibandingkan dengan evaluasi di akhir kegiatan, sehingga dapat terlihat jelas peningkatan pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan. Seusai pre-test, para guru mendapatkan modul pembelajaran dan set alat skrining perkembangan anak yang nantinya digunakan untuk praktik langsung.
Sesi berikutnya menjadi inti dari kegiatan: simulasi dan praktik langsung. Dengan bimbingan dosen serta mahasiswa UIMA yang bertindak sebagai fasilitator, para guru PAUD tampak bersemangat mencoba satu per satu instrumen skrining. Setiap peserta dibekali formulir KPSP dan set alat sederhana untuk mengobservasi keterampilan motorik, bahasa, maupun sosial anak sesuai usia. “Praktik ini membuat kami lebih percaya diri. Ternyata mudah digunakan dan sangat bermanfaat untuk menilai perkembangan anak-anak di kelas,” ungkap salah satu guru peserta dengan penuh antusias.

Atmosfer ruang pelatihan berubah interaktif. Para guru saling berdiskusi, bertanya, dan mengamati cara penggunaan instrumen. Mahasiswa yang mendampingi ikut membantu mengoreksi apabila ada langkah yang terlewat, sehingga setiap peserta benar-benar memperoleh pengalaman belajar yang menyeluruh. Hal ini sekaligus menunjukkan kolaborasi lintas generasi di dalam kampus: dosen berperan sebagai narasumber, mahasiswa sebagai fasilitator, dan guru PAUD sebagai peserta yang akan menerapkan ilmu di lapangan.
Usai simulasi, kegiatan ditutup dengan evaluasi pembelajaran. Peserta kembali diuji untuk mengukur pemahaman mereka setelah materi dan praktik dilakukan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan nilai pre-test. Hal ini menegaskan efektivitas metode pelatihan yang memadukan teori, praktik, dan pendampingan intensif. Selain itu, sesi foto bersama dilakukan sebagai penanda berakhirnya kunjungan kedua yang penuh kesan.
Tak berhenti di sini, program pengabdian masyarakat ini akan berlanjut ke kunjungan ketiga. Pada tahap tersebut, para guru akan dikenalkan dengan aplikasi digital KPSP yang dikembangkan oleh Tim Hibah Pengabdian Masyarakat Kelompok Riset Keperawatan Prodi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UIMA. Aplikasi ini dirancang untuk mempermudah proses skrining dengan fitur yang lebih praktis, akurat, dan sesuai standar Kementerian Kesehatan.
Dengan rangkaian kegiatan yang berkesinambungan ini, UIMA dan TK Tekaku berharap dapat mencetak guru PAUD yang tak hanya piawai mendidik, tetapi juga menjadi garda depan dalam deteksi dini tumbuh kembang anak Indonesia. Sebuah upaya nyata bahwa sinergi antara kampus, sekolah, dan masyarakat mampu memberikan dampak positif bagi generasi emas bangsa di masa depan. /sd

Pakem Media Pakem Media