Membangun Kebiasaan Sehat dari Rumah: Keluarga sebagai Penggerak PHBS di Masyarakat

Universitas Indonesia Maju Dorong Kesadaran Hidup Bersih dan Sehat melalui Pemberdayaan Keluarga

Kebiasaan hidup sehat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan rumah, mengelola sampah, mengonsumsi makanan sehat, dan rutin memeriksa kesehatan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak penting bagi kualitas hidup keluarga.

Namun, mengetahui pentingnya perilaku sehat belum tentu membuat seseorang langsung menerapkannya secara konsisten. Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan, saling mengingatkan, dan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung kesehatan.

Berangkat dari pentingnya peran tersebut, Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan Keluarga dalam Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Masyarakat” pada Jumat, 27 Desember 2024. Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen bersama dua mahasiswa dengan melibatkan masyarakat, keluarga, dan kader kesehatan.

PHBS Bukan Sekadar Kebersihan, tetapi Gaya Hidup

Kegiatan diawali dengan pengkajian singkat mengenai penerapan PHBS dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diajak melihat kembali kebiasaan yang telah dilakukan di rumah, sekaligus mengenali perilaku sehat yang masih perlu ditingkatkan.

Melalui edukasi yang diberikan, peserta memperoleh pemahaman mengenai berbagai aspek PHBS keluarga, mulai dari kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun, penggunaan air bersih, kebersihan lingkungan rumah, pengelolaan sampah, pola makan sehat, hingga aktivitas fisik.

Materi juga menekankan pentingnya tidak merokok di dalam rumah dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan demikian, PHBS tidak hanya dipahami sebagai upaya menjaga kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang berperan dalam menjaga kesehatan keluarga dan mencegah berbagai masalah kesehatan.

Belajar dengan Praktik, Bukan Hanya Mendengarkan

Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian peserta adalah demonstrasi dan praktik cuci tangan yang benar. Setelah mendapatkan penjelasan, peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan kembali langkah-langkah cuci tangan dengan didampingi mahasiswa.

Pendekatan praktik ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga dapat mencoba dan memperbaiki cara yang dilakukan.

Selain itu, peserta diajak berdiskusi mengenai kondisi lingkungan rumah yang dapat memengaruhi kesehatan. Hal-hal sederhana seperti kebersihan kamar mandi, pengelolaan sampah, penggunaan air bersih, dan kebersihan lingkungan sekitar menjadi bagian dari pembahasan.

Diskusi tersebut mendorong peserta untuk memahami bahwa menciptakan lingkungan sehat bukan hanya tanggung jawab petugas kesehatan, melainkan juga bagian dari peran setiap keluarga.

Menghubungkan PHBS dengan Pencegahan Hipertensi

Kegiatan pemberdayaan ini juga mengintegrasikan edukasi mengenai pencegahan hipertensi, khususnya bagi kelompok dewasa dan lanjut usia. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengurangi konsumsi garam, menerapkan pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik, menghindari rokok, serta memantau tekanan darah secara berkala.

Sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, peserta yang bersedia juga mendapatkan pemeriksaan tekanan darah sederhana. Pemeriksaan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan memahami pentingnya melakukan pemantauan secara rutin.

Pemeriksaan tersebut bukan untuk menetapkan diagnosis, melainkan sebagai skrining sederhana sekaligus sarana edukasi. Peserta yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut diarahkan untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.

Edukasi Membuka Ruang untuk Perubahan

Setelah rangkaian edukasi, diskusi, dan praktik selesai, peserta mengikuti evaluasi untuk melihat pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan mengenai PHBS pada berbagai aspek, termasuk kebersihan diri, lingkungan sehat, pola makan, aktivitas fisik, serta pencegahan hipertensi.

Peserta juga menunjukkan kemampuan untuk menyebutkan contoh perilaku PHBS yang dapat diterapkan di lingkungan keluarga. Sebagian besar peserta mampu mengikuti praktik cuci tangan dengan langkah yang benar, menunjukkan bahwa pembelajaran melalui demonstrasi dapat membantu memperkuat pemahaman dan keterampilan.

Meski demikian, peningkatan pengetahuan merupakan bagian awal dari proses perubahan perilaku. Kebiasaan sehat membutuhkan penerapan yang konsisten, dukungan keluarga, dan penguatan secara berkelanjutan agar dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Keluarga sebagai Penggerak Kebiasaan Sehat

Salah satu hal penting dalam kegiatan ini adalah dorongan kepada keluarga untuk menyusun komitmen penerapan PHBS di rumah. Komitmen tersebut mencakup menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan cuci tangan dengan sabun, mengelola sampah, menerapkan pola makan sehat, meningkatkan aktivitas fisik, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Keluarga menjadi ruang pertama tempat kebiasaan kesehatan dibentuk. Ketika anggota keluarga saling mengingatkan dan mendukung, penerapan perilaku sehat diharapkan dapat lebih mudah dipertahankan.

Keterlibatan kader kesehatan juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan kegiatan. Mitra membantu koordinasi dengan masyarakat, menginformasikan kegiatan, menyediakan tempat, serta mendukung pelaksanaan edukasi dan praktik PHBS. Dukungan ini menjadi bentuk kolaborasi nonfinansial yang memperkuat pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.

Pengalaman Belajar bagi Mahasiswa

Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners. Mahasiswa terlibat dalam pengkajian, edukasi, pendampingan praktik, pemeriksaan kesehatan, dokumentasi, hingga evaluasi kegiatan.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan kompetensi keperawatan komunitas, khususnya dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat dan mendukung upaya promotif serta preventif.

Melalui kegiatan seperti ini, ilmu yang diperoleh di lingkungan akademik dapat diimplementasikan secara langsung untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.

Menjaga PHBS agar Tidak Berhenti pada Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan secara umum berjalan dengan baik dan mendapatkan respons positif dari peserta. Masyarakat aktif mengikuti edukasi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berpartisipasi dalam praktik.

Namun, penerapan PHBS secara berkelanjutan tetap membutuhkan proses. Perbedaan tingkat pengetahuan, keterbatasan waktu, kesibukan masyarakat, dan kondisi sarana prasarana menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Perubahan perilaku juga tidak dapat terbentuk hanya melalui satu kali edukasi.

Karena itu, tindak lanjut kegiatan diarahkan pada pendampingan dan monitoring penerapan PHBS di lingkungan keluarga dengan melibatkan kader kesehatan. Edukasi dan pemantauan kesehatan, khususnya terkait pencegahan hipertensi pada kelompok dewasa dan lanjut usia, juga diharapkan dapat terus dikembangkan.

Pada akhirnya, hidup bersih dan sehat bukan sekadar materi yang disampaikan dalam sebuah kegiatan, melainkan kebiasaan yang perlu dibangun bersama. Dari tangan yang dicuci, rumah yang dijaga kebersihannya, hingga keluarga yang saling mengingatkan untuk hidup sehat, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah dan berkembang menjadi gerakan kesehatan di masyarakat.

About evan

Leave a Reply

Your email address will not be published.