Stunting hingga kini masih menjadi salah satu tantangan serius dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpotensi menurunkan tingkat kecerdasan, mengganggu kesehatan, serta mengurangi produktivitas anak di masa depan. Jika tidak dicegah sejak dini, stunting dapat berimplikasi pada kualitas generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang, terutama bagi ibu hamil dan ibu dengan anak di bawah dua tahun (baduta), menjadi langkah strategis dalam memutus rantai masalah stunting.
Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap isu tersebut, mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan dan Program Studi Sarjana Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia Maju melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “Ibu Hebat, Anak Sehat” pada hari Jumat, 15 Agustus 2025, bertempat di Posyandu Sedap Malam, RW.07, Kelurahan Ragajaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini mengusung tema “Cegah Stunting Sejak Dini” dengan tujuan penyuluhan gizi seimbang untuk mencegah stunting pada anak melalui pemberdayaan kesadaran orang tua anak. Peserta kegiatan adalah para orang tua terutama ibu yang memiliki anak usia di bawah dua tahun (baduta), mengingat peran penting orang tua dalam 1000 hari pertama kehidupan anak sebagai fondasi utama tumbuh kembang optimal.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, atau stimulasi yang kurang memadai. Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tinggi badan di bawah standar usianya dan berisiko mengalami hambatan perkembangan kognitif, kecerdasan, serta imunitas tubuh. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat masa kanak-kanak, tetapi juga berlanjut hingga dewasa, bahkan memengaruhi produktivitas bangsa di masa mendatang.
Penyebab stunting sangat kompleks, mulai dari kurangnya asupan gizi selama kehamilan dan masa bayi, praktik pemberian makan yang tidak tepat, keterbatasan akses layanan kesehatan, hingga kondisi sosial-ekonomi keluarga. Oleh karena itu, pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, melibatkan ibu hamil, keluarga, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sekitar.

Dalam kegiatan penyuluhan, mahasiswa menyampaikan materi mengenai gizi seimbang, pentingnya asupan nutrisi pada ibu hamil, baduta, dan balita, serta langkah praktis pencegahan stunting di tingkat keluarga. Tidak hanya berhenti pada pemberian materi, kegiatan ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif yang disambut dengan antusias oleh para peserta. Para ibu terlihat aktif bertanya seputar cara mengatur pola makan baduta, hingga tips menjaga kesehatan anak di tengah keterbatasan sumber daya. Antusiasme ini mencerminkan kesadaran akan kebutuhan besar masyarakat terhadap informasi kesehatan yang mudah dipahami dan dapat diaplikasikan secara langsung.
Selain dari mahasiswa, kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari kader posyandu setempat. Ibu Sri Achdiyati, kader Posyandu Sedap Malam, menjelaskan bahwa pembahasan mengenai stunting memang sudah menjadi perhatian rutin dari tahun 2022 di wilayah tersebut. Melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK), pemantauan secara rutin setiap bulan, khususnya terhadap ibu hamil, baduta, dan balita. Setiap data mengenai kondisi anak, termasuk berat dan tinggi badan, tercatat secara digital. Beliau juga menjelaskan terkait risiko stunting di daerah RW.07 yang terbilang cukup rendah berkat perhatian penuh dari orang tua yang telah menerima edukasi dan kerap menerapkan anjuran pencegahan stunting di daerah ini.

“Iyya kita itu kan ada TPK ( Tim Pendamping Keluarga ) rutin melaporkan progress Stunting ini, jadi dari Ibu hamil, kalau tahun kemarin balita, sekarang baduta. TPK itu membuat laporan rutin dari berat badannya dan tinggi badannya naik atau tidak. Jadi kalau progress pemantauan stunting ini sudah lama mas, dari tahun 2022. Nah laporan juga ada aplikasinya sendiri karna sekarang kan udah digital semua jadi ada sistemnya, hasil laporannya juga cukup ideal, rata-rata balita dan batita yang ada disini cukup ideal bb dan tbnya, karena orang tuanya juga allhamduliah memperhatikan jadi pada sering juga datang ke posyandu, nah, itu balik lagi ke edukasinya. Stunting itu kan juga berpengaruh sama gizinya, jadi pemasukan gizinya harus dari saat ibunya hamil.” ucap ibu Sri terkait program Stunting.
Beliau juga menambahkan bahwa selain edukasi, masyarakat juga mendapatkan bantuan makanan tambahan dari desa maupun puskesmas. Bantuan berupa telur, kue, atau susu diberikan kepada keluarga sebagai bentuk dukungan nyata dalam pemberdayaan di wilayah tersebut.
“Dari desa, dari puskesmas juga ada tambahan makanan kadang dapat telur, kue-kue, susu, makanan, dll.” ujarnya.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, dapat terjelaskan situasi di RW.07 sendiri yang menunjukkan bahwa risiko stunting relatif rendah. Hal ini tidak lepas dari pemantauan rutin yang dilakukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) sejak 2022 dengan sistem laporan digital, kesadaran tinggi orang tua dalam menjaga gizi anak sejak masa kehamilan, serta dukungan tambahan berupa edukasi dan pemberian makanan bergizi dari desa maupun puskesmas. Sinergi ini menjadikan RW.07 sebagai contoh wilayah yang berhasil mengendalikan risiko stunting melalui kolaborasi masyarakat, kader kesehatan, dan pemerintah setempat.
Pakem Media Pakem Media