Ketika air banjir mulai surut, rumah kembali dibersihkan, barang-barang yang rusak mulai disingkirkan, dan aktivitas perlahan kembali berjalan, banyak orang menganggap bencana telah selesai. Namun bagi sebagian warga, keadaan belum benar-benar kembali seperti semula. Rasa cemas ketika hujan turun, sulit tidur, terus-menerus merasa waspada, atau khawatir bencana akan kembali terjadi dapat bertahan bahkan setelah kondisi lingkungan membaik.
Dampak seperti inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Edukasi Kesiapsiagaan Kesehatan Jiwa Pasca Bencana Berbasis Keperawatan Jiwa” yang dilaksanakan oleh dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia Maju (UIMA), Ns. Yani Handayani, S.Kep., M.Kes, bersama dua mahasiswa, di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa.
Kegiatan ini berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat yang berada di wilayah dengan ancaman banjir musiman. Jika kesiapsiagaan bencana selama ini lebih sering dikaitkan dengan evakuasi, penyelamatan diri, logistik, dan penanganan korban secara fisik, maka aspek kesehatan jiwa juga perlu mendapat perhatian yang sama.
Saat Banjir Menyisakan Rasa Cemas
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan pada rumah dan lingkungan. Pengalaman menghadapi situasi yang mengancam keselamatan dapat memberikan tekanan psikologis bagi masyarakat. Dalam kegiatan edukasi yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa, masyarakat dan kader kesehatan diberikan ruang untuk membicarakan pengalaman yang mereka maupun warga di lingkungannya alami setelah banjir.
Sejumlah peserta menceritakan munculnya kecemasan yang berlangsung cukup lama, gangguan tidur, hingga rasa waspada berlebihan terhadap kemungkinan datangnya bencana susulan. Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat setelah bencana tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Ada luka yang dapat dilihat dan segera mendapatkan pertolongan. Namun ada pula beban psikologis yang tidak tampak dari luar dan sering kali baru disadari ketika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kesiapsiagaan kesehatan jiwa perlu menjadi bagian dari upaya menghadapi bencana. Masyarakat perlu mengetahui bahwa reaksi emosional setelah mengalami peristiwa yang berat dapat terjadi dan bahwa seseorang yang mengalami tekanan psikologis membutuhkan dukungan, bukan penghakiman.
Belajar Mendengarkan Sebelum Memberikan Nasihat
Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah simulasi dukungan psikologis awal. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai kesehatan jiwa, tetapi juga diajak berlatih menghadapi situasi yang mungkin terjadi di lingkungan mereka.
Dalam simulasi, peserta belajar menggunakan teknik mendengarkan aktif dan komunikasi suportif. Mereka berlatih bagaimana merespons seseorang yang sedang mengalami tekanan tanpa buru-buru memberikan nasihat, menyalahkan, atau mengatakan bahwa masalah tersebut “seharusnya sudah dilupakan”.
Pada awal latihan, sebagian peserta masih membutuhkan pendampingan untuk menemukan cara berkomunikasi yang empatik. Namun melalui praktik dan diskusi, peserta secara bertahap mulai lebih percaya diri dalam merespons berbagai situasi.
Hal sederhana seperti mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan kesempatan seseorang untuk bercerita, dan menunjukkan bahwa dirinya tidak sendirian dapat menjadi bentuk dukungan awal yang berarti.
Kader Posyandu dan Kesehatan Jiwa: Peran yang Sering Tidak Terlihat
Kader kesehatan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Mereka berada cukup dekat dengan warga dan sering menjadi orang yang mengetahui perubahan kondisi masyarakat di lingkungannya.
Kedekatan tersebut menjadi modal penting dalam deteksi dini masalah kesehatan jiwa. Dalam kegiatan ini, kader mendapatkan pelatihan mengenai skrining sederhana dan cara mengenali kondisi psikososial yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Melalui simulasi kasus, kader tidak hanya belajar menggunakan instrumen skrining, tetapi juga memahami bagaimana hasil pengamatan dapat ditindaklanjuti. Mereka diberikan pemahaman mengenai batas peran kader serta kapan kondisi warga perlu dikonsultasikan atau dirujuk kepada tenaga kesehatan di Puskesmas.
Bagi sebagian kader, pengetahuan tersebut memberikan kerangka yang lebih jelas dalam menjalankan kepekaan yang sebenarnya sudah mereka miliki. Mereka selama ini dapat melihat ketika ada warga yang mengalami perubahan perilaku atau tampak tertekan, tetapi belum selalu memiliki cara yang terstruktur untuk meresponsnya.
Setelah mengikuti pelatihan, beberapa kader menyampaikan bahwa mereka merasa lebih siap dan tidak lagi terlalu ragu ketika harus berhadapan dengan warga yang menunjukkan tanda-tanda distres psikologis pasca bencana.
Dari Edukasi Menuju Sistem Pelayanan
Penguatan kesehatan jiwa pasca bencana tidak cukup jika hanya berhenti pada kegiatan penyuluhan. Masyarakat dan kader membutuhkan sistem yang dapat membantu mereka mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menemukan masalah.
Atas dasar kebutuhan tersebut, tim pengabdian bersama tenaga kesehatan Puskesmas Kecamatan Jagakarsa melakukan diskusi kelompok terfokus untuk menyusun protokol penanganan kesehatan jiwa pasca bencana. Protokol tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi, kapasitas, dan sumber daya yang tersedia di Puskesmas.
Proses ini menjadi bagian penting karena sebelumnya penanganan masalah psikososial pasca bencana masih dapat berlangsung secara insidental dan belum memiliki alur baku yang jelas. Dengan adanya protokol, tenaga kesehatan memiliki dokumen kerja yang dapat menjadi acuan ketika menghadapi kondisi kedaruratan bencana.
Protokol tersebut kemudian difinalisasi bersama pihak Puskesmas dan diserahkan untuk dapat digunakan dalam pelayanan. Dengan demikian, hasil pengabdian tidak berhenti ketika kegiatan selesai, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan pelayanan kesehatan jiwa di tingkat fasilitas kesehatan.
Bukan Hanya Saat Bencana Terjadi
Salah satu tantangan dalam membangun kesiapsiagaan adalah memastikan bahwa pengetahuan tidak hanya muncul ketika bencana sudah terjadi. Edukasi justru perlu dilakukan sebelum masyarakat berada dalam situasi krisis.
Karena itu, modul edukasi, instrumen skrining, poster, dan lembar informasi yang dihasilkan melalui kegiatan ini diserahkan kepada Puskesmas Kecamatan Jagakarsa. Materi tersebut diharapkan dapat digunakan kembali dalam kegiatan rutin, termasuk pertemuan kader, Posyandu, maupun kegiatan edukasi kesehatan lainnya.
Dengan cara tersebut, pembicaraan mengenai kesehatan jiwa dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya respons sementara setelah bencana.
Kader yang telah mendapatkan pelatihan juga diharapkan dapat berbagi pengetahuan dengan kader lain dan tokoh masyarakat di wilayahnya. Pendekatan berjenjang ini membuka peluang agar manfaat kegiatan tidak berhenti pada peserta yang hadir secara langsung.
Tantangan di Lapangan Justru Menjadi Pembelajaran
Pelaksanaan kegiatan tentu tidak berlangsung tanpa tantangan. Jadwal pelayanan Puskesmas yang padat membuat tim perlu menyesuaikan waktu pelaksanaan agar kegiatan tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Mobilisasi peserta juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian masyarakat memiliki pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga sehingga tidak selalu dapat mengikuti kegiatan pada waktu yang telah direncanakan.
Dalam pelatihan kader, perbedaan latar belakang pendidikan dan pengalaman juga membuat tingkat pemahaman peserta tidak sepenuhnya sama. Beberapa kader membutuhkan pendampingan lebih lanjut, terutama dalam membedakan reaksi stres yang masih wajar dengan kondisi yang membutuhkan rujukan.
Keterbatasan tenaga yang memiliki kompetensi khusus di bidang kesehatan jiwa di tingkat Puskesmas juga menjadi catatan penting. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kesehatan jiwa membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat dibebankan pada satu kegiatan saja.
Namun, berbagai tantangan tersebut dapat diatasi melalui koordinasi dan penyesuaian antara tim pengabdian dan pihak Puskesmas. Justru dari proses tersebut terlihat bahwa program kesehatan jiwa perlu dirancang berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan hanya berdasarkan konsep ideal.
Membangun Kesiapsiagaan yang Berkelanjutan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi langkah awal untuk membangun kesiapsiagaan kesehatan jiwa yang lebih terstruktur di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Jagakarsa. Edukasi kepada masyarakat, peningkatan kapasitas kader, penyediaan instrumen, hingga penyusunan protokol menjadi rangkaian yang saling melengkapi.
Ke depan, tim pengabdian merencanakan pendampingan secara berkala untuk memantau penerapan protokol dan mengetahui kendala yang muncul dalam praktik. Pelatihan berjenjang juga dapat dikembangkan agar kader yang telah mendapatkan pelatihan mampu berbagi pengetahuan dengan kader lainnya.
Materi edukasi dan protokol juga didorong untuk masuk ke dalam kegiatan rutin Puskesmas sehingga kesiapsiagaan kesehatan jiwa tidak bergantung pada kegiatan pengabdian tertentu. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan di bidang kesehatan jiwa juga menjadi salah satu kebutuhan yang perlu terus didorong.
Selain itu, model kegiatan ini memiliki peluang untuk dikembangkan di wilayah lain yang memiliki karakteristik risiko bencana serupa. Pengalaman di Jagakarsa dapat menjadi pembelajaran bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan memikirkan bagaimana masyarakat menyelamatkan diri ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana mereka dapat memulihkan kondisi psikologis setelahnya.
Karena Pulih Tidak Selalu Berarti Kembali Seperti Semula
Bencana mungkin memiliki titik awal dan akhir yang jelas. Air banjir datang, kemudian surut. Proses evakuasi dimulai, kemudian selesai. Bantuan disalurkan, rumah dibersihkan, dan aktivitas perlahan kembali berjalan.
Namun proses pemulihan psikologis tidak selalu mengikuti garis waktu yang sama.
Seseorang mungkin masih merasa takut ketika mendengar hujan deras. Orang lain mungkin mengalami kesulitan tidur atau terus memikirkan kemungkinan bencana berikutnya. Ada pula yang tampak baik-baik saja tetapi sebenarnya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya.
Karena itu, kesiapsiagaan kesehatan jiwa perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana secara keseluruhan. Melalui edukasi, keterampilan kader, dukungan tenaga kesehatan, dan sistem pelayanan yang lebih terarah, masyarakat dapat memiliki bekal untuk menghadapi bukan hanya peristiwa bencananya, tetapi juga dampak psikologis yang mungkin mengikutinya.
Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Ns. Yani Handayani, S.Kep., M.Kes bersama mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners UIMA di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa menjadi salah satu upaya untuk membangun kesiapan tersebut.
Sebab ketika bencana datang, yang perlu diselamatkan bukan hanya tubuh. Kesehatan jiwa masyarakat juga perlu dipersiapkan, didampingi, dan dipulihkan.
Pakem Media Pakem Media