Menjadi remaja tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Di tengah tuntutan sekolah, persoalan pertemanan, hubungan dengan keluarga, pencarian jati diri, hingga tekanan dari media sosial, remaja dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut kemampuan untuk beradaptasi. Tidak semua remaja memiliki cara yang sama dalam menghadapi tekanan tersebut.
Ada yang memilih bercerita kepada orang yang dipercaya. Ada yang mencoba menyelesaikan masalah satu per satu. Namun, ada pula yang memilih memendam persoalan, menarik diri, atau mencari pelarian melalui perilaku yang justru dapat menimbulkan masalah baru.
Situasi tersebut menjadi perhatian dalam pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Ns. Aisyah Safitri, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J, dengan melibatkan mahasiswa pada tahun 2024. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Edukasi Koping Adaptif bagi Remaja untuk Mencegah Perilaku Berisiko Kesehatan Jiwa.”
Sebagai dosen di bidang keperawatan, kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penerapan ilmu keperawatan dalam upaya promotif dan preventif di masyarakat. Edukasi kesehatan jiwa diberikan sebagai langkah untuk membantu remaja mengenali tekanan, memahami respons emosional, serta mengembangkan cara menghadapi masalah yang lebih sehat.
Ketika Remaja Berhadapan dengan Tekanan
Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mulai belajar mengenali dirinya sendiri sekaligus membangun hubungan yang lebih luas dengan lingkungan.
Pada fase ini, berbagai perubahan dapat terjadi secara bersamaan. Perubahan fisik, perkembangan emosi, tuntutan akademik, dinamika pertemanan, konflik keluarga, hingga kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi sumber tekanan.
Tidak semua persoalan tersebut terlihat dari luar.
Seorang remaja mungkin tetap masuk sekolah, berbicara dengan teman, aktif di media sosial, bahkan terlihat ceria, tetapi sebenarnya sedang mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah yang dialaminya.
Karena itu, pendekatan kesehatan jiwa tidak cukup hanya dilakukan ketika sudah muncul gangguan. Upaya promotif dan preventif perlu diperkenalkan sejak remaja agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah peran tenaga keperawatan, termasuk dosen dan mahasiswa keperawatan, menjadi relevan dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Koping Adaptif: Keterampilan yang Perlu Dipelajari
Koping merupakan cara seseorang menghadapi tekanan atau masalah yang muncul dalam kehidupannya.
Koping adaptif membantu seseorang menghadapi persoalan dengan cara yang lebih konstruktif. Bentuknya dapat berupa kemampuan mengenali emosi, mencari dukungan sosial, melakukan pemecahan masalah, mengelola stres, melakukan aktivitas positif, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan.
Sebaliknya, tekanan yang tidak dikelola dengan baik dapat mendorong seseorang mencari jalan keluar yang kurang tepat.
Pada remaja, hal tersebut perlu mendapatkan perhatian karena masa perkembangan ini merupakan periode penting dalam pembentukan pola perilaku dan kemampuan mengelola emosi.
Oleh sebab itu, edukasi mengenai koping adaptif tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu remaja memahami bahwa menghadapi masalah merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih.
Peran Dosen Ners dalam Promosi Kesehatan Jiwa
Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Ns. Aisyah Safitri, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J bersama mahasiswa menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan keperawatan di luar lingkungan akademik.
Dosen Ners tidak hanya memiliki peran dalam proses pendidikan mahasiswa di perguruan tinggi, tetapi juga dapat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif.
Dalam konteks kesehatan jiwa remaja, edukasi menjadi salah satu pendekatan yang penting. Remaja diberikan ruang untuk memahami berbagai tekanan yang mungkin mereka alami sekaligus mengenali pilihan respons yang lebih sehat.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih kontekstual. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kesehatan jiwa melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melihat bagaimana ilmu tersebut diterapkan ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membentuk calon perawat yang tidak hanya memiliki kemampuan klinis, tetapi juga memahami pentingnya pendidikan kesehatan, komunikasi terapeutik, pemberdayaan masyarakat, serta upaya pencegahan masalah kesehatan jiwa.
Bercerita Bukan Berarti Lemah
Salah satu pesan penting dalam edukasi kesehatan jiwa adalah bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Remaja terkadang merasa harus menyelesaikan semua persoalan sendiri. Kekhawatiran dianggap berlebihan atau takut dihakimi dapat membuat mereka memilih diam.
Padahal, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh dukungan ketika menghadapi masalah.
Dukungan dapat berasal dari keluarga, teman, guru, tenaga kesehatan, maupun pihak profesional ketika dibutuhkan.
Karena itu, remaja perlu mengetahui bahwa ketika suatu masalah terasa terlalu berat untuk dihadapi sendiri, mencari pertolongan merupakan pilihan yang dapat dilakukan.
Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Hari Ini
Koping adaptif juga mengajarkan bahwa menghadapi masalah tidak selalu berarti menemukan solusi dalam waktu singkat.
Ada persoalan yang membutuhkan waktu.
Ada emosi yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum seseorang dapat menentukan langkah berikutnya.
Ada pula situasi ketika seseorang perlu berhenti sejenak, menenangkan diri, kemudian kembali memikirkan persoalan dengan kondisi yang lebih siap.
Kemampuan mengambil jeda, mengidentifikasi masalah, mencari informasi, mempertimbangkan pilihan, dan meminta dukungan merupakan bagian dari keterampilan yang dapat membantu remaja menghadapi tekanan secara lebih sehat.
Dari Edukasi Menuju Kebiasaan
Kesehatan jiwa tidak dibangun hanya melalui satu kali penyuluhan.
Pengetahuan yang diperoleh perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Remaja perlu terus dilatih untuk mengenali emosi, membangun komunikasi yang sehat, mengelola stres, menjaga hubungan sosial yang positif, serta mengetahui kapan harus mencari bantuan.
Karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen Ners memiliki arti lebih luas daripada sekadar penyampaian materi.
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membawa ilmu keperawatan lebih dekat kepada masyarakat dan menjadikan kesehatan jiwa sebagai bagian dari pembicaraan sehari-hari.
Menyiapkan Remaja Menghadapi Kehidupan
Remaja tidak membutuhkan kehidupan yang selalu bebas dari masalah.
Mereka membutuhkan bekal untuk menghadapi masalah ketika masalah tersebut datang.
Melalui kegiatan “Edukasi Koping Adaptif bagi Remaja untuk Mencegah Perilaku Berisiko Kesehatan Jiwa”, Ns. Aisyah Safitri, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J bersama mahasiswa berkontribusi dalam mengenalkan pentingnya kemampuan menghadapi tekanan secara sehat sejak usia remaja.
Bagi dunia keperawatan, upaya tersebut merupakan bagian dari pendekatan promotif dan preventif. Bagi masyarakat, edukasi kesehatan jiwa dapat menjadi bekal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peka terhadap persoalan emosional dan psikologis remaja.
Sebab menjaga kesehatan jiwa bukan hanya tentang menangani seseorang ketika sudah mengalami masalah.
Menjaga kesehatan jiwa juga berarti memberikan pengetahuan dan keterampilan agar seseorang mampu menghadapi kehidupan dengan lebih adaptif.
Dan untuk remaja, bekal tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika mereka mulai memasuki fase kehidupan yang semakin kompleks.
Pakem Media Pakem Media