Universitas Indonesia Maju — Bertambahnya usia tidak hanya berarti bertambahnya angka dalam identitas seseorang. Pada usia lanjut, perubahan fungsi tubuh dapat berlangsung secara perlahan dan sering kali muncul bersamaan dengan berbagai masalah kesehatan. Seorang pasien lansia yang dirawat di rumah sakit, misalnya, tidak selalu datang hanya dengan satu persoalan. Keluhan fisik dapat berjalan beriringan dengan keterbatasan mobilitas, perubahan fungsi kognitif, masalah nutrisi, gangguan tidur, risiko jatuh, hingga kebutuhan dukungan dari keluarga.
Kondisi tersebut membuat pelayanan kepada pasien lansia membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Perawat tidak cukup hanya berfokus pada keluhan utama yang membawa pasien ke rumah sakit, tetapi juga perlu melihat bagaimana kondisi tersebut memengaruhi kemampuan pasien dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, berkomunikasi, berinteraksi, serta mempertahankan kemandiriannya.
Pendekatan inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen Ners, Ns. Saiful Gunardi, S.Kep., M.Kes., bersama mahasiswa, dengan mengangkat tema “Pemberdayaan Perawat dalam Asuhan Keperawatan Gerontik Terintegrasi pada Pasien Lansia di Rumah Sakit Wilayah Depok.”
Lansia membutuhkan asuhan yang melihat pasien secara utuh
Dalam pelayanan gerontik, pasien lansia tidak dapat dipandang hanya berdasarkan diagnosis medis. Dua pasien dengan penyakit yang sama dapat memiliki kebutuhan keperawatan yang sangat berbeda karena kondisi fisik, kemampuan fungsional, kondisi psikologis, lingkungan, serta dukungan keluarga mereka juga berbeda.
World Health Organization melalui pendekatan Integrated Care for Older People (ICOPE) menekankan pentingnya pelayanan yang berpusat pada individu dan terkoordinasi. Pendekatan tersebut mencakup identifikasi perubahan pada kapasitas intrinsik seperti kemampuan kognitif, mobilitas, vitalitas, penglihatan, pendengaran, serta kondisi psikologis, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Di lingkungan rumah sakit, kebutuhan tersebut menjadi semakin kompleks. Pasien lansia dapat mengalami perubahan kondisi dalam waktu relatif cepat. Risiko jatuh, penurunan mobilitas, gangguan nutrisi, masalah komunikasi, delirium, hingga ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan sejak awal perawatan.
Karena itu, kemampuan perawat dalam melakukan pengkajian gerontik menjadi bagian penting dari kualitas asuhan keperawatan.
Perawat bukan hanya pemberi tindakan, tetapi juga penghubung pelayanan
Perawat berada pada posisi yang sangat dekat dengan pasien selama proses perawatan. Interaksi yang berlangsung secara terus-menerus memungkinkan perawat mengenali perubahan kondisi pasien yang mungkin tidak langsung terlihat melalui pemeriksaan medis.
WHO juga menempatkan perawat sebagai bagian penting dalam pelayanan terintegrasi bagi lansia. Perawat berperan sebagai pemberi asuhan sekaligus dapat berfungsi sebagai koordinator pelayanan, pendidik, dan penghubung antara pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan lainnya.
Inilah yang menjadi salah satu fokus pemberdayaan dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut. Perawat didorong untuk tidak sekadar menjalankan tindakan berdasarkan instruksi, tetapi mampu berpikir secara komprehensif mengenai kebutuhan pasien lansia.
Pengkajian kemudian diarahkan pada pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi penting: Apakah pasien masih mampu berpindah secara mandiri? Apakah terdapat risiko jatuh? Bagaimana kemampuan pasien berkomunikasi? Apakah pasien mengalami perubahan orientasi atau fungsi kognitif? Bagaimana pola makan dan status nutrisinya? Siapa yang menjadi pendamping utama pasien? Dan yang tidak kalah penting, apa yang sebenarnya masih mampu dilakukan pasien secara mandiri?
Dari pengkajian menuju asuhan yang lebih terintegrasi
Pemberdayaan perawat dalam kegiatan ini diarahkan agar proses asuhan tidak berhenti pada tahap pengkajian. Informasi yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi masalah keperawatan, tujuan, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang saling terhubung.
Dengan demikian, asuhan keperawatan gerontik dapat bergerak dalam satu alur yang jelas.
Perawat melakukan pengkajian kondisi pasien, mengidentifikasi masalah dan risiko, menyusun prioritas kebutuhan, memberikan intervensi, melibatkan pasien serta keluarga, kemudian mengevaluasi perkembangan pasien. Bila ditemukan kebutuhan yang memerlukan keterlibatan profesi lain, perawat dapat mengomunikasikannya kepada tim kesehatan terkait.
Konsep integrasi seperti ini sejalan dengan kerangka ICOPE yang menempatkan asesmen, penyusunan rencana personal, implementasi, dan pemantauan sebagai bagian dari suatu rangkaian pelayanan yang berkesinambungan.
Mencegah masalah sebelum menjadi komplikasi
Salah satu hal yang ditekankan dalam asuhan gerontik adalah kemampuan mengenali risiko lebih awal.
Pasien lansia yang tampak stabil ketika pertama kali masuk rumah sakit belum tentu bebas dari risiko. Penurunan mobilitas, perubahan kesadaran, penggunaan berbagai obat, kelemahan fisik, gangguan penglihatan, serta lingkungan yang asing dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah selama masa perawatan.
Pendekatan komprehensif pada pasien lansia di rumah sakit karena itu perlu memberikan perhatian terhadap fungsi pasien, bukan hanya penyakitnya. WHO menjelaskan bahwa pada pasien lansia yang dirawat karena kondisi akut, perhatian terhadap fungsi, pengenalan dini sindrom geriatri, rehabilitasi, serta perencanaan pulang merupakan bagian penting dari pendekatan geriatri.
Perawat memiliki peran strategis dalam proses tersebut karena pemantauan pasien dilakukan secara berkelanjutan.
Keluarga juga menjadi bagian dari proses perawatan
Asuhan gerontik tidak berhenti ketika pasien berada di ruang perawatan. Keluarga perlu dipersiapkan untuk melanjutkan perawatan setelah pasien kembali ke rumah.
Edukasi sederhana mengenai mobilisasi aman, pencegahan jatuh, pemenuhan nutrisi, kepatuhan terhadap pengobatan, perubahan kondisi yang perlu diperhatikan, hingga jadwal kontrol dapat menjadi bagian dari edukasi keperawatan.
Pendekatan terintegrasi juga menempatkan kebutuhan pasien dan dukungan bagi caregiver sebagai bagian dari pelayanan. WHO memasukkan dukungan bagi caregiver dalam komponen penting pelayanan terintegrasi bagi lansia.
Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi “penunggu pasien”, tetapi dapat menjadi mitra perawat dalam mempertahankan kemampuan dan keselamatan lansia.
Mahasiswa belajar dari kebutuhan nyata di lapangan
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda dari proses pembelajaran di ruang kelas.
Mahasiswa dapat melihat secara langsung bahwa keperawatan gerontik tidak hanya berbicara mengenai teori tentang proses penuaan. Di lapangan, mahasiswa belajar bagaimana berkomunikasi dengan pasien lansia, mengamati perubahan kondisi, memahami kebutuhan keluarga, serta melihat pentingnya kolaborasi dalam pelayanan.
Pendampingan yang dilakukan bersama dosen juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan profesional sekaligus memahami bahwa pelayanan keperawatan membutuhkan ketelitian, empati, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasien.
Membangun budaya pelayanan yang lebih ramah lansia
Pemberdayaan perawat pada akhirnya bukan sekadar meningkatkan pengetahuan tentang gerontik. Tujuan yang lebih luas adalah membangun cara pandang bahwa pasien lansia membutuhkan pelayanan yang aman, manusiawi, terintegrasi, dan berorientasi pada kemampuan pasien.
Kementerian Kesehatan RI sendiri pada 2026 menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan pengelola rumah sakit dalam penyelenggaraan pelayanan geriatri yang komprehensif, terintegrasi, dan berkesinambungan. Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut melibatkan berbagai profesi kesehatan, termasuk perawat.
Artinya, penguatan kapasitas perawat menjadi bagian penting dalam menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan pada populasi lanjut usia.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Ns. Saiful Gunardi, S.Kep., M.Kes. bersama mahasiswa, pemberdayaan perawat diharapkan dapat memperkuat penerapan asuhan keperawatan gerontik di lingkungan rumah sakit wilayah Depok.
Sebab, merawat lansia bukan sekadar membantu mereka melewati masa sakit. Lebih dari itu, perawat berperan membantu pasien mempertahankan fungsi, keselamatan, kemandirian, serta kualitas hidupnya selama menjalani perawatan.
Pada akhirnya, pelayanan gerontik yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak tindakan yang diberikan kepada pasien, tetapi tentang seberapa utuh pasien dipahami sebagai manusia dengan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan keluarga yang saling berkaitan.
Sumber pengembangan materi: WHO, Integrated Care for Older People (ICOPE) dan Kementerian Kesehatan RI mengenai pelayanan geriatri di rumah sakit.
Pakem Media Pakem Media