Bekerja dari pagi hingga sore, mengejar target, duduk berjam-jam di depan komputer, makan seadanya, atau melewatkan waktu olahraga karena kesibukan. Rutinitas seperti ini mungkin terasa biasa bagi masyarakat usia produktif. Namun, di balik kesibukan sehari-hari, ada satu hal yang sering luput diperhatikan: kesehatan jantung.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) tidak hanya menjadi persoalan kelompok lanjut usia. Masyarakat usia produktif juga dapat menghadapi berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan pola hidup dan kondisi kesehatan. Data Riskesdas 2018 yang digunakan dalam kegiatan pengabdian menunjukkan prevalensi PJK berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia 35–44 tahun mencapai 1,5%, meningkat dibandingkan Riskesdas 2013.
Angka tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kesadaran menjaga kesehatan jantung perlu dibangun sejak usia produktif, ketika seseorang masih aktif bekerja, mengurus keluarga, dan menjalankan berbagai aktivitas sosial.
Melihat kebutuhan tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Indonesia Maju (UIMA) menyelenggarakan Edukasi dan Deteksi Dini Risiko Penyakit Jantung Koroner pada Masyarakat Usia Produktif di Jakarta Selatan di Puskesmas Kelurahan Lenteng Agung 1, Jakarta Selatan.
Mengenali Risiko Sebelum Menjadi Masalah
PJK terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung terganggu akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner. Salah satu proses yang berperan adalah aterosklerosis, yaitu terbentuknya plak dari lemak, kolesterol, dan jaringan fibrosa pada dinding pembuluh darah.
Yang perlu diperhatikan, sebagian faktor risiko PJK sebenarnya dapat dikendalikan.
Usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Sementara itu, hipertensi, kadar lemak darah yang tidak terkendali, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan stres merupakan beberapa faktor yang dapat dimodifikasi melalui perubahan perilaku serta pemantauan kesehatan.
Masalahnya, faktor-faktor tersebut sering kali tidak menimbulkan keluhan yang terasa mengganggu pada tahap awal. Seseorang dapat tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa dirinya memiliki beberapa faktor risiko penyakit jantung.
Karena itu, deteksi dini menjadi penting.
Tidak Sekadar Mendengar Materi, Peserta Langsung Memeriksa Kondisi
Sebanyak 15 masyarakat usia produktif mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat ini. Peserta terdiri atas 6 laki-laki atau 40% dan 9 perempuan atau 60%.
Dari kelompok usia, 4 peserta atau 26,7% berusia 15–29 tahun, 7 peserta atau 46,7% berusia 30–44 tahun, dan 4 peserta atau 26,7% berusia 45–59 tahun. Sementara dari sisi pekerjaan, 10 peserta atau 66,7% bekerja di sektor formal maupun informal dan 5 peserta atau 33,3% tidak bekerja atau merupakan ibu rumah tangga.
Kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya mendapatkan informasi mengenai PJK, tetapi juga dapat mengenali faktor risiko yang ada pada dirinya.
Deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah, pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pengukuran lingkar perut, serta wawancara mengenai riwayat penyakit tidak menular pada diri sendiri dan keluarga. Peserta juga diajak membicarakan kebiasaan merokok, pola makan, konsumsi gula dan garam, serta aktivitas fisik.
Pendekatan ini mengacu pada mekanisme Posbindu PTM yang ditujukan bagi masyarakat usia 15 tahun ke atas.
Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar untuk memberikan konseling sesuai kondisi masing-masing peserta. Bagi peserta yang memiliki faktor risiko lebih tinggi, tindak lanjut pemeriksaan di puskesmas juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Dari 58,3 Menjadi 84,7
Setelah mengikuti edukasi interaktif mengenai PJK, peserta kembali mengikuti evaluasi pengetahuan melalui post-test.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup terlihat. Rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 58,3 pada pre-test menjadi 84,7 pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 26,4 poin.
Dari 15 peserta, sebanyak 13 orang atau 86,7% mengalami peningkatan skor, sedangkan 2 peserta atau 13,3% memiliki skor yang relatif tetap.
Materi tidak hanya membahas pengertian PJK. Peserta diajak memahami faktor risiko, gejala yang perlu diperhatikan, serta berbagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian dilakukan melalui ceramah interaktif, tanya jawab, dan diskusi sehingga peserta memiliki kesempatan untuk menghubungkan materi dengan kondisi yang mereka alami sendiri.
Dengan demikian, edukasi tidak berhenti pada pertanyaan “Apa itu penyakit jantung?”, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana pola makan saya, seberapa sering saya bergerak, apakah saya merokok, bagaimana tekanan darah saya, dan apakah saya memiliki riwayat penyakit tertentu dalam keluarga?
Skrining Menemukan Beberapa Faktor Risiko
Pemeriksaan yang dilakukan selama kegiatan juga memberikan gambaran mengenai kondisi peserta.
Sebanyak 5 peserta atau 33,3% tercatat memiliki tekanan darah tinggi berdasarkan kriteria pengukuran ≥130/80 mmHg. Sementara itu, 6 peserta atau 40% memiliki IMT berlebih atau obesitas dengan kriteria ≥25 kg/m².
Pada peserta laki-laki, sebanyak 3 orang atau 20% tercatat memiliki kebiasaan merokok. Selain itu, 8 peserta atau 53,3% memiliki aktivitas fisik yang kurang dan 4 peserta atau 26,7% memiliki riwayat keluarga dengan PJK atau penyakit tidak menular.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa faktor risiko dapat muncul dalam berbagai bentuk dan dapat saling berkaitan. Seseorang mungkin memiliki berat badan berlebih sekaligus kurang aktivitas fisik, sementara peserta lain mungkin memiliki kebiasaan merokok atau riwayat keluarga penyakit tidak menular.
Namun, hasil skrining ini bukanlah diagnosis PJK. Pemeriksaan tersebut merupakan langkah awal untuk mengenali faktor risiko dan menentukan apakah seseorang membutuhkan pemantauan atau pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.
Kesibukan Bukan Alasan untuk Mengabaikan Kesehatan
Salah satu tantangan dalam pencegahan penyakit tidak menular pada usia produktif adalah keterbatasan waktu. Kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari dapat membuat pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi sesuatu yang sering ditunda.
Padahal, deteksi dini tidak harus menunggu seseorang mengalami keluhan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga kesehatan jantung dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: mengenali faktor risiko, memantau kondisi kesehatan, memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menghindari rokok, serta melakukan pemeriksaan secara berkala.
Keberlanjutan upaya tersebut juga tidak dapat hanya mengandalkan satu kali edukasi. Karena itu, hasil kegiatan merekomendasikan agar edukasi dan deteksi dini risiko PJK dapat diintegrasikan dengan kegiatan Posbindu PTM secara rutin.
Puskesmas, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga agar upaya tersebut tetap berjalan. Dengan dukungan lingkungan sekitar, pemeriksaan faktor risiko dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, bukan hanya dilakukan ketika sudah muncul masalah kesehatan.
Pada akhirnya, menjaga jantung bukanlah sesuatu yang baru perlu dipikirkan ketika memasuki usia lanjut. Bagi masyarakat usia produktif, perhatian terhadap kesehatan jantung justru dapat dimulai dari sekarang—ketika masih aktif bekerja, masih memiliki banyak aktivitas, dan masih memiliki kesempatan untuk mengubah kebiasaan.
Karena terkadang, langkah sederhana seperti mengetahui tekanan darah, mengukur berat badan, atau menyadari bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak aktivitas fisik dapat menjadi awal dari keputusan yang lebih besar untuk menjaga kesehatan di masa depan.
Pakem Media Pakem Media