Mengubah Cara Pandang, Mengurangi Stigma: Membangun Masyarakat yang Lebih Peduli terhadap Orang dengan Masalah Kesehatan Jiwa
Universitas Indonesia Maju – Ketika seseorang mengalami masalah kesehatan jiwa, tantangan yang dihadapi tidak selalu datang dari kondisi yang dialaminya. Tidak jarang, tantangan justru muncul dari lingkungan sekitar melalui stigma, prasangka, pemberian label, atau bahkan sikap menjauh.
Ucapan seperti “orang gila”, anggapan bahwa seseorang dengan masalah kesehatan jiwa berbahaya, atau kebiasaan mengucilkan mereka mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang mengalaminya dan keluarganya, stigma dapat menjadi beban tambahan yang membuat mereka semakin sulit mendapatkan dukungan dan merasa diterima di lingkungan sosial.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Masyarakat terhadap Pencegahan Stigma pada Orang dengan Masalah Kesehatan Jiwa (OMKJ)”. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan mengenai kesehatan jiwa, tetapi juga mengajak masyarakat melihat kembali cara mereka memahami, memperlakukan, dan memberikan dukungan kepada orang dengan masalah kesehatan jiwa.
Ketika Kurangnya Pengetahuan Melahirkan Stigma
Stigma terhadap masalah kesehatan jiwa sering kali muncul karena pemahaman yang belum memadai. Ketika masyarakat tidak mengetahui penyebab, tanda dan gejala, maupun prinsip penanganan masalah kesehatan jiwa, kondisi tersebut lebih mudah dipahami melalui anggapan dan stereotip yang keliru.
Akibatnya, seseorang dapat diberi label negatif, dijauhi, didiskriminasi, bahkan mengalami intimidasi. Padahal, dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial merupakan bagian penting dalam membantu seseorang menjalani proses pemulihan dan mempertahankan kualitas hidupnya.
Karena itu, edukasi menjadi salah satu langkah penting. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar agar dapat membedakan antara fakta dan anggapan yang selama ini berkembang di lingkungan sekitar.
Edukasi Dikemas agar Mudah Dipahami
Dalam kegiatan ini, informasi kesehatan jiwa disampaikan menggunakan berbagai media edukasi, yaitu slide presentasi, leaflet, dan poster. Ketiga media tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Slide presentasi digunakan untuk membantu tim menyampaikan materi secara runtut, mulai dari pengertian kesehatan jiwa dan orang dengan masalah kesehatan jiwa, faktor yang berkaitan dengan munculnya masalah kesehatan jiwa, tanda dan gejala, prinsip penanganan, hingga bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh keluarga dan masyarakat.
Penyampaian materi tidak dilakukan secara satu arah. Peserta diajak berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan berdasarkan situasi yang mereka temui di lingkungan sekitar. Dengan cara tersebut, pembahasan kesehatan jiwa menjadi lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan tidak berhenti pada teori.
Sementara itu, leaflet diberikan sebagai bahan yang dapat dibawa pulang. Informasi mengenai tanda dan gejala, penanganan, serta pentingnya menghindari label negatif dapat dibaca kembali setelah kegiatan selesai. Peserta juga dapat membagikannya kepada keluarga maupun orang lain yang belum mengikuti kegiatan.
Sedangkan poster digunakan untuk menyampaikan pesan secara singkat dan visual. Pesan mengenai penerimaan, dukungan, dan pentingnya menghindari diskriminasi dirancang agar mudah dikenali dan diingat. Poster diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa orang dengan masalah kesehatan jiwa tetap merupakan bagian dari masyarakat yang membutuhkan dukungan, bukan pengucilan.
Dari Mendengar Menjadi Berani Berdiskusi
Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan, yang terdiri atas tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan warga umum. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari awal hingga akhir.
Sebelum penyuluhan dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui pengetahuan dan sikap awal. Selanjutnya, peserta mendapatkan edukasi menggunakan bahan visual yang telah disiapkan, kemudian mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab sebelum kembali mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi.
Salah satu hal yang terlihat selama kegiatan adalah munculnya keaktifan peserta dalam berdiskusi. Pembahasan mengenai kesehatan jiwa mendorong peserta untuk mengaitkan materi dengan situasi yang mereka temui di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan pengertian masalah kesehatan jiwa, tetapi juga mengenai bagaimana seharusnya bersikap ketika memiliki anggota keluarga atau tetangga yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari sini, edukasi berkembang menjadi percakapan mengenai kepedulian, penerimaan, dan peran masyarakat.
Ruang diskusi tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena perubahan sikap tidak cukup dibangun hanya melalui pemberian informasi. Masyarakat juga perlu memiliki kesempatan untuk bertanya, menyampaikan pengalaman, dan memahami cara memberikan respons yang lebih tepat.
Mengubah “Label” Menjadi Dukungan
Pencegahan stigma pada orang dengan masalah kesehatan jiwa pada dasarnya dimulai dari cara masyarakat memandang mereka.
Ketika masyarakat memahami bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan kondisi yang membutuhkan perhatian dan penanganan, bukan sesuatu yang pantas dijadikan bahan ejekan atau alasan untuk mengucilkan seseorang, maka ruang untuk memberikan dukungan menjadi lebih terbuka.
Keluarga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Begitu pula kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga di lingkungan sekitar. Mereka dapat menjadi bagian dari sistem dukungan yang membantu seseorang tetap terhubung dengan keluarga, lingkungan sosial, serta layanan kesehatan ketika membutuhkan pertolongan.
Karena itu, kegiatan ini tidak berhenti pada pemberian leaflet atau selesainya sesi penyuluhan. Materi edukasi mengenai pencegahan stigma juga direkomendasikan untuk terus dimanfaatkan dalam kegiatan kesehatan masyarakat yang dilakukan secara rutin oleh Puskesmas, termasuk kegiatan posyandu, posbindu, dan pertemuan kader kesehatan.
Kader kesehatan dapat mengambil peran sebagai penyambung informasi kepada masyarakat lain. Dengan begitu, pesan mengenai kesehatan jiwa tidak hanya berhenti pada 20 peserta yang hadir, tetapi dapat diteruskan ke keluarga, tetangga, dan komunitas yang lebih luas.
Membangun Lingkungan yang Lebih Ramah terhadap Kesehatan Jiwa
Mengurangi stigma bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kali kegiatan. Perubahan cara pandang membutuhkan edukasi yang berulang, komunikasi yang tepat, dan lingkungan yang secara konsisten memberikan dukungan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, edukasi kesehatan jiwa menjadi salah satu langkah untuk membuka percakapan yang selama ini mungkin masih dianggap tabu. Masyarakat diajak untuk tidak buru-buru memberikan label, tidak menjauhkan, dan tidak memperlakukan seseorang secara berbeda hanya karena ia mengalami masalah kesehatan jiwa.
Pada akhirnya, masyarakat yang peduli terhadap kesehatan jiwa bukan hanya masyarakat yang mampu mengenali tanda-tanda masalah psikologis, tetapi juga masyarakat yang tahu bagaimana bersikap ketika seseorang di sekitarnya membutuhkan bantuan.
Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan pertanyaan yang menghakimi atau jarak yang semakin jauh, melainkan lingkungan yang mau mendengarkan, memahami, dan membantu mereka mendapatkan pertolongan yang tepat.
Pakem Media Pakem Media