Stroke tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan, tetapi juga dapat mengubah kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Kelemahan pada salah satu sisi tubuh, keterbatasan gerak, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan melakukan aktivitas sederhana seperti makan, mandi, berpakaian, berpindah tempat, dan berjalan menjadi tantangan yang sering dihadapi pasien setelah mengalami stroke.
Proses pemulihan pasien stroke membutuhkan waktu dan dilakukan secara berkelanjutan. Tidak berhenti pada pengobatan di rumah sakit, rehabilitasi juga perlu dilanjutkan di rumah dengan melibatkan keluarga sebagai pendamping utama. Salah satu latihan yang dapat dilakukan sesuai kondisi dan kemampuan pasien adalah Range of Motion (ROM).

Latihan ROM merupakan latihan untuk menggerakkan persendian melalui rentang gerak tertentu dengan tujuan membantu mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas, kekuatan otot, dan kemampuan gerak pasien. Latihan ini dapat dilakukan secara aktif oleh pasien apabila masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya, maupun secara pasif dengan bantuan keluarga atau caregiver ketika pasien mengalami keterbatasan gerak.
Namun, penerapan latihan ROM di rumah masih menghadapi berbagai kendala. Sebagian pasien dan keluarga belum mengetahui teknik gerakan yang tepat, urutan latihan, frekuensi pelaksanaan, maupun cara memberikan bantuan tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman atau cedera. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan keluarga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan rehabilitasi pasien stroke.
Melihat kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat melaksanakan kegiatan “Pendampingan Pasien Stroke dalam Meningkatkan Aktivitas Fungsional melalui Latihan ROM di Rumah” di Rumah Terapi YHC. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pasien serta keluarga dalam melakukan latihan ROM secara aman dan sesuai kemampuan pasien.
Kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari edukasi, demonstrasi, praktik langsung, pendampingan, hingga evaluasi. Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas pasien pasca stroke dan anggota keluarga mengikuti rangkaian kegiatan. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai manfaat latihan ROM, tetapi juga melihat secara langsung cara melakukan gerakan dan mempraktikkannya dengan pendampingan.
Dalam praktiknya, keluarga diperkenalkan pada prinsip dasar latihan ROM, termasuk memastikan posisi pasien nyaman, menciptakan lingkungan yang aman, melakukan gerakan secara perlahan dan terarah, serta tidak memaksakan gerakan melewati batas kemampuan pasien. Keluarga juga diarahkan untuk memperhatikan respons pasien selama latihan sehingga bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Media edukasi bergambar turut digunakan agar peserta lebih mudah mengingat langkah-langkah latihan. Dengan adanya panduan tersebut, keluarga diharapkan memiliki referensi sederhana yang dapat digunakan kembali saat mendampingi pasien melakukan latihan di rumah.
Untuk melihat perubahan pengetahuan peserta, evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test. Sementara itu, perkembangan aktivitas fungsional pasien dipantau menggunakan lembar observasi. Evaluasi ini menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana edukasi dan praktik yang diberikan dapat dipahami serta diterapkan oleh peserta.
Lebih dari sekadar menggerakkan anggota tubuh, latihan ROM menjadi salah satu upaya untuk membantu pasien mempertahankan kemampuan fungsional dan secara bertahap meningkatkan kemandirian. Kemampuan melakukan gerakan sederhana secara konsisten dapat menjadi bagian dari perjalanan pasien menuju aktivitas sehari-hari yang lebih mandiri.
Dalam proses tersebut, keluarga bukan hanya berperan sebagai pihak yang membantu pasien, tetapi juga menjadi mitra aktif dalam rehabilitasi. Pendampingan yang dilakukan dengan cara yang tepat dapat membantu pasien lebih konsisten menjalani latihan sekaligus memberikan dukungan selama proses pemulihan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, edukasi dan praktik latihan ROM diharapkan dapat menjadi bekal bagi pasien dan keluarga untuk melanjutkan rehabilitasi di lingkungan rumah. Dengan latihan yang dilakukan secara aman, teratur, dan sesuai arahan tenaga kesehatan, keluarga dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung peningkatan aktivitas fungsional dan kemandirian pasien pasca stroke.
Pemulihan stroke adalah sebuah proses. Setiap gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari langkah menuju kemandirian yang lebih besar.
Pakem Media Pakem Media