artikel, Kesehatan, Makanan

Pendidikan Kesehatan Perawatan Luka Dengan Madu dan Sufratulle

Masyarakat Indonesia mengenal berbagai mitos yang kurang benar tentang penanganan luka baik luka kecil maupun luka besar. Beberapa contohnya adalah membersihkan luka dengan alcohol membiarkan luka tetap terbuka dengan tujuan agar cepat kering memberikan obat luka bakar dengan pasta gigi. Tindakan ini dapat membuat kondisi luka semakin bertambah buruk. Sebagian besar masyarakat belum mengetahui tentang prinsip perawatan luka.

Edukasi mengenai perawatan luka yang benar dengan menggunakan bahan yang tepat dan mudah dijangkau oleh masyarkat. Perawatan luka dengan menggunakan madu dan sufratulle sebagai solusi alternative yang dapat dipilih masyarakat untuk melakukan perawatan luka dirumah salah satunya adalah menggunakan madu dan sufratulle.

Madu telah digunakan sebagai obat alami untuk berbagai penyembuhan penyakit sejak ribuan tahun yang lalu (Mwipatayi et al., 2004). Orang terdahulu  telah menggunakan madu sebagai sebuah terapi pengobatan selama beberapa milenium dan belakangan ini ditemukan kembali sebagai pengobatan yang potensial dalam perawatan luka (Marshall, 2002).

Sofratulle merupakan antibiotik spektrum luas yang dapat mengendalikan dan membasmi sebagian besar infeksi sekunder yang mungkin ada dalam lesi dan pada saat yang bersamaan akan memberikan perlindungan mekanik yang sangat baik dan tidak mengganggu granulasi kulit. Sofratulle sangat mudah dalam penggunaannya dan tanpa diikuti rasa sakit. Penggunaan dressing luka menggunakan sofratulle tidak mengakibatkan maserasi lesi (Sistem Informasi Malahyde, 2000).

Dalam madu terdapat kandungan zat gula berupa fruktosa dan glukosa yang merupakan jenis gula monosakarida yang mudah diserap oleh usus. Selain itu, madu mengandung vitamin, mineral, asam amino, hormon, antibiotik dan bahan-bahan aromatic.

Cara pemeberian madu yang baik adalah madu ditaruh pada pembalut yang dapat menyerap madu. Balutan yang digunakan harus yang berpori agar madu dapat mencapai bagian tubuh yang luka. Madu aman untuk dioleskan langsung ke daerah luka yang terbuka karena madu selalu larut dalam air dan mudah dibersihkan. Pengunaan madu pada luka diabetik bergantung pada jumlah eksudat yang diproduksi oleh luka tersebut. Frekuensi penggantian pembalut madu bergantung dari seberapa cepat madu tercampur dengan eksudat. Penggantian pembalut pada luka yang tidak mengeluarkan eksudat dapat dilakukan 3 kali semingu (Situmorang, 2009).

Sofratulle mengandung lanoparaffin framycetin sulphate 1%. Dalam setiap gram sofratulle mengandung framycetin BP sulphate 10 mg (Carville, 1998 Sistem Informasi Malahyde, 2000).

Cara penggunaan sufratulle pada perawatan luka, Pertama kali luka diabetik dibersihkan, kemudian satu lembar sofratull diletakkan secara langsung pada luka dan ditutupi dengan penutup yang sesuai. Dalam kasus ulkus, sofratulle dipotong persis dengan ukuran ulkus sehingga tidak tumpang tindih dengan epidermis sekitarnya. Penggantian sofratulle pada lesi eksudatif dilakukan minimal satu kali sehari, jika tidak maka sofratulle dapat dibiarkan dalam situfor 2-3 hari (Sistem Informasi Malahyde, 2000; Farmasiku, 2012). Sofratulle hanya dapat digunakan pada area luka saja, tidak pada kulit sekitar luka karena dapat menyebabkan maserasi pada kulit normal tersebut (Sodera dan Soleh, 1991).

Kegiatan pengabdian masyarakat ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai cara perawatan luka salah satunya dengan menggunakan madu dan sufratulle. Pengabdian kepada masyarakat telah dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Prodi Ners STIKIM pada tanggal 16 Juni 2019 di daerah binaan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Menurut dosen Prodi Ners STIKIM Ns. Sumedi, M.Kep pendidikan kesehatan perawatan luka dengan madu dan sufratulle sangat penting diajarkan kepada masyarakat terutama penderita DM secara berkelanjutan dan terbimbing agar terbentuk perilaku sehat yang menetap dan kemandirian dari penderita DM dalam melakukan perawatan luka di rumah. Akan tetapi tetap dibutuhkan penguatan dari berbagai pihak termasuk keluarga, nakes dan kader

(Oleh : Ns. Sumedi, M.Kep – Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKes Indonesia Maju, Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *