Jakarta – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Anak usia Sekolah Dasar (SD) menjadi kelompok yang rentan terkena DBD karena aktivitas mereka yang banyak dilakukan di luar ruangan serta kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan sekolah yang kurang bersih, adanya genangan air, dan kebiasaan hidup yang belum sehat dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit ini.
Asal Usul Demam Berdarah
Penyakit Demam Berdarah pertama kali ditemukan di negara-negara tropis dan subtropis yang memiliki iklim panas dan lembap. Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kasus DBD yang cukup tinggi setiap tahunnya. Virus dengue berkembang melalui perantara nyamuk Aedes aegypti yang biasanya berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, ember, kaleng bekas, dan genangan air di lingkungan rumah maupun sekolah.
Penyebaran DBD sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan cuaca, serta perilaku masyarakat yang kurang menjaga kebersihan. Anak SD lebih rentan terkena DBD karena daya tahan tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, anak-anak sering bermain di lingkungan terbuka tanpa memperhatikan kebersihan sekitar. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dasar yang kurang menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dapat meningkatkan risiko penyebaran nyamuk penyebab DBD.
Dampak Demam Berdarah pada Anak SD
DBD dapat memberikan dampak yang serius bagi kesehatan anak. Gejala yang sering muncul meliputi demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan muncul bintik merah pada kulit. Jika tidak segera ditangani, DBD dapat menyebabkan perdarahan bahkan kematian. Anak-anak yang terkena DBD biasanya harus dirawat di rumah sakit sehingga proses belajar mereka terganggu. Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi keluarga. Orang tua harus mengeluarkan biaya pengobatan dan kehilangan waktu bekerja untuk merawat anak yang sakit. Di lingkungan sekolah, meningkatnya kasus DBD dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar karena banyak siswa yang tidak hadir. Oleh sebab itu, pencegahan DBD harus dilakukan secara bersama-sama oleh keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Pencegahan Demam Berdarah
Pencegahan DBD dapat dilakukan dengan menerapkan program 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekasyang dapat menampung air. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Di sekolah dasar, pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi kesehatan kepada siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Program seperti pemeriksaan jentik nyamuk, kerja bakti membersihkan sekolah, dan pembentukan kader kesehatan atau duta sehat terbukti efektif meningkatkan pengetahuan siswa tentang DBD. Penggunaan media pembelajaran kreatif seperti poster, scrapbook, permainan edukatif, dan penyuluhan kesehatan juga dapat membantu anak memahami cara pencegahan DBD dengan lebih mudah. Pendidikan kesehatan sejak usia dini sangat penting agar siswa memiliki kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Korelasi Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas, dan Sekolah Dasar
Pencegahan DBD tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan kerja sama berbagai instansi. Dinas Kesehatan memiliki peran dalam memberikan penyuluhan, melakukan fogging saat terjadi peningkatan kasus, serta memantau penyebaran penyakit di masyarakat. Selain itu, Puskesmas bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan, edukasi kepada siswa dan orang tua, serta pembinaan program kesehatan sekolah. Dinas Pendidikan berperan dalam mendukung pelaksanaan program kesehatan di sekolah melalui kebijakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan penerapan PHBS. Sekolah dasar menjadi tempat utama pelaksanaan edukasi kesehatan karena siswa dapat langsung mempraktikkan perilaku hidup bersih di lingkungan sekolah. Kerja sama antara guru, tenaga kesehatan, dan orang tua sangat penting agar pencegahan DBD berjalan secara optimal.
Kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas, dan sekolah dasar dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak. Dengan adanya pemeriksaan rutin, penyuluhan kesehatan, serta kegiatan pemberantasan sarang nyamuk secara berkala, risiko penyebaran DBD pada anak SD dapat dikurangi. Kesadaran masyarakat juga perlu terus ditingkatkan agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
- Hapsari, R., dkk. (2024). Pemberdayaan Siswa Sekolah Dasar untuk Menurunkan Angka Kesakitan Demam Berdarah. Proactive. Jurnal Proactive Undip
- Nayla, S. M. A., dkk. (2024). Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Pada Anak Usia Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Boja I Kabupaten Kendal. Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat. Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat
- Pangesti, N. A., dkk. (2024). Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Anak Sekolah. Perawat Mengabdi. Perawat Mengabdi Journal
- Bhakti, A. Y., dkk. (2024). Upaya Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di UPT Puskesmas Meral Tahun 2024. Jurnal Kesehatan Tambusai. Jurnal Kesehatan Tambusai5. Purnamasari, V. D., dkk. (2025). Peran Edukatif Duta Sehat dalam Peduli Kesehatan Lingkungan Pencegahan DBD di Lingkungan Sekolah. Jurnal Masyarakat Madani Indonesia. Jurnal Masyarakat Madani Indonesia
(Penulis: Agnesia Nelma Savsavubun, Mahasiswa Universitas Indonesia Maju, Jakarta)
Pakem Media Pakem Media