Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk Meningkatkan Fungsi Sosial ODGJ di Masyarakat

Proses pemulihan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak berhenti saat gejala klinis mereka mereda. Tantangan terbesar yang kerap dihadapi setelah menjalani perawatan medis adalah bagaimana mereka kembali diterima, berinteraksi, dan menjalankan peran sosial di tengah masyarakat. Tanpa stimulasi sosial yang tepat, ODGJ rentan mengalami isolasi diri yang memicu kekambuhan.

Melihat krusialnya tahap pemulihan ini, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia Maju (UIMA) menggelar kegiatan intervensi psikososial berbasis kelompok di sebuah yayasan penanganan ODGJ di Kota Bekasi. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Ns. Yani Handayani, S.Kep., M.Kes. selaku dosen pembimbing, dengan melibatkan peran aktif mahasiswa keperawatan sebagai fasilitator.

Mengapa Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Penting?

Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) merupakan salah satu bentuk terapi modalitas keperawatan jiwa yang dirancang untuk melatih keterampilan verbal, nonverbal, dan empati para peserta. Dalam suasana kelompok yang terstruktur namun menyenangkan, ODGJ diajak untuk keluar dari dunia mereka sendiri dan belajar merekatkan kembali hubungan interpersonalnya.

Di yayasan rehabilitasi Kota Bekasi ini, kegiatan TAK dikemas secara interaktif melalui beberapa tahapan kunci:

  • Sesi Perkenalan dan Kontak Mata: Melatih keberanian peserta untuk menyebutkan nama, menyapa kawan di sebelah, dan menatap lawan bicara tanpa rasa takut atau canggung.
  • Permainan Kelompok Berbasis Kerja Sama: Menggunakan media sederhana seperti bola atau musik berantai, peserta diajak untuk melatih fokus, mendengarkan instruksi, dan mengekspresikan emosi secara positif.
  • Diskusi dan Berbagi Cerita: Memberikan ruang aman (safe space) bagi para peserta untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa khawatir dihakimi.

Sinergi Dosen dan Mahasiswa di Lapangan

Kehadiran tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia Maju membawa suasana baru bagi para warga binaan yayasan. Di bawah bimbingan Ns. Yani Handayani, S.Kep., M.Kes., para mahasiswa Ners tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi turun langsung menjadi pendamping (co-therapist) di setiap dinamika kelompok.

Sentuhan empati, kesabaran, dan pendekatan terapeutik yang diterapkan mahasiswa mampu mencairkan suasana. Peserta yang awalnya cenderung menyendiri atau enggan berbicara, perlahan mulai mau tersenyum, berjabat tangan, hingga mengikuti alur permainan kelompok sampai selesai.

Dampak Positif dan Harapan ke Depan

Melalui penerapan TAK yang berkelanjutan, terlihat perubahan bertahap pada fungsi sosial para peserta. Interaksi antarwarga binaan di yayasan menjadi lebih hidup, tingkat kecemasan saat berada di dalam kelompok berkurang, dan rasa percaya diri mereka mulai tumbuh kembali.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata bahwa kombinasi antara edukasi akademis dan kepedulian sosial mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat rentan. Pemulihan kesehatan jiwa tidak hanya membutuhkan obat-obatan, tetapi juga ruang penerimaan, interaksi yang manusiawi, dan dukungan psikososial yang konsisten.

Diharapkan langkah kecil yang diinisiasi oleh Ns. Yani Handayani, S.Kep., M.Kes. bersama mahasiswa Ners Universitas Indonesia Maju ini dapat terus menginspirasi gerakan inklusif lainnya, sehingga ODGJ di Indonesia dapat kembali berdaya dan diterima secara utuh di tengah masyarakat.

About evan

Leave a Reply

Your email address will not be published.