
Membangun Sekolah yang Aman Dimulai dari Berani Peduli
Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk belajar, berteman, menemukan minat, dan mengembangkan kepercayaan diri. Namun, lingkungan sekolah juga dapat menjadi ruang munculnya berbagai persoalan sosial ketika interaksi antarsiswa tidak dibangun dengan rasa saling menghargai. Perundungan dan pelecehan seksual merupakan dua persoalan yang dapat memberikan dampak serius terhadap kenyamanan dan perkembangan siswa. Yang sering kali membuat persoalan menjadi lebih rumit, tidak semua siswa memahami bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan dapat menjadi bentuk perundungan atau pelecehan.
Berangkat dari pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat, dosen Program Studi Sarjana Keperawatan Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes. melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama mahasiswa pada tahun 2024 dengan mengangkat tema “Pencegahan Perundungan dan Pelecehan Seksual Antar Siswa.” Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan edukasi kesehatan dan membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga diri sekaligus menghargai orang lain.
Ketika “Bercanda” Mulai Menyakiti
Bagi sebagian siswa, mengejek teman, memberikan julukan tertentu, mempermalukan seseorang di depan teman-temannya, atau menyebarkan foto dan cerita pribadi mungkin dianggap sebagai bagian dari pergaulan. Persoalannya, tidak semua candaan diterima dengan cara yang sama.
Sebuah candaan dapat berubah menjadi perundungan ketika dilakukan berulang, menyasar seseorang secara khusus, menimbulkan rasa takut atau tertekan, serta membuat korban merasa tidak berdaya. Perundungan juga tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Kata-kata, pengucilan, ancaman, penyebaran rumor, hingga tindakan melalui media sosial dapat menjadi bentuk perundungan yang berdampak pada korban.
Karena itu, siswa perlu memahami satu hal sederhana: jika sebuah tindakan membuat orang lain merasa takut, terhina, dipermalukan, atau tidak aman, maka tindakan tersebut tidak dapat begitu saja dibenarkan dengan alasan “cuma bercanda”.
Pelecehan Seksual Tidak Selalu Berbentuk Sentuhan
Pemahaman mengenai pelecehan seksual juga menjadi bagian penting dalam edukasi kepada siswa. Pelecehan seksual tidak hanya berkaitan dengan sentuhan pada tubuh seseorang. Komentar mengenai tubuh, ucapan bernuansa seksual, memperlihatkan atau mengirimkan konten seksual, mengambil gambar seseorang tanpa persetujuan, hingga tindakan lain yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dapat menjadi persoalan serius.
Di era digital, batas antara ruang sekolah dan ruang pribadi juga semakin tipis. Percakapan di grup kelas, media sosial, pesan pribadi, maupun berbagai platform digital dapat menjadi tempat terjadinya tindakan yang merugikan siswa lain. Oleh sebab itu, edukasi mengenai keamanan diri tidak cukup hanya membahas interaksi secara langsung, tetapi juga perlu menyentuh bagaimana siswa berperilaku di ruang digital.
Salah satu pesan penting yang disampaikan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah bahwa tubuh, privasi, dan batas pribadi setiap orang harus dihormati. Tidak seorang pun berhak memaksa orang lain melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Mengenali Batas Diri dan Menghargai Batas Orang Lain
Pencegahan perundungan dan pelecehan seksual sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Siswa perlu belajar mengenali batas dirinya sendiri dan memahami bahwa orang lain juga memiliki batas yang harus dihormati.
Menghargai batas berarti memahami bahwa seseorang memiliki hak untuk mengatakan tidak. Ketika seorang teman menolak disentuh, tidak ingin dibicarakan mengenai tubuhnya, tidak nyaman dengan candaan tertentu, atau meminta agar foto dan informasi pribadinya tidak disebarkan, keputusan tersebut harus dihormati.
Sebaliknya, siswa juga perlu memahami bahwa mengatakan “tidak” bukan berarti seseorang tidak memiliki teman atau tidak dapat bergaul. Kemampuan menetapkan batas justru merupakan bagian dari keterampilan menjaga diri.
Jangan Diam Ketika Melihat Teman Menjadi Korban
Salah satu tantangan dalam pencegahan perundungan adalah budaya diam. Seorang siswa mungkin mengetahui bahwa temannya sedang mengalami perundungan, tetapi memilih tidak ikut campur karena takut menjadi sasaran berikutnya. Ada pula yang memilih diam karena menganggap masalah tersebut bukan urusannya.
Padahal, keberanian untuk membantu tidak selalu berarti harus menghadapi pelaku secara langsung. Siswa dapat memberikan dukungan kepada korban, mengajak korban berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya, atau melaporkan kejadian kepada pihak sekolah sesuai mekanisme yang tersedia.
Pesan yang penting adalah: melaporkan bukan berarti mengadu untuk mencari masalah. Melaporkan berarti membantu menghentikan perilaku yang dapat merugikan orang lain.
Edukasi Bersama Mahasiswa, Dekat dengan Dunia Siswa
Dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat tahun 2024 ini, Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes. tidak bekerja sendiri. Kegiatan dilaksanakan bersama mahasiswa sebagai bagian dari keterlibatan sivitas akademika dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa memberikan warna tersendiri dalam kegiatan. Mahasiswa dapat berinteraksi lebih dekat dengan peserta, membantu proses penyampaian materi, membangun suasana diskusi yang lebih komunikatif, serta mendampingi peserta ketika menyampaikan pertanyaan atau pengalaman yang berkaitan dengan materi.
Pendekatan edukasi tidak hanya diarahkan pada penyampaian informasi, tetapi juga pada pembentukan kesadaran. Siswa diajak memahami bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah. Setiap siswa memiliki peran dalam menciptakan budaya pergaulan yang saling menghormati.
Dari Korban, Teman, hingga Saksi: Semua Punya Peran
Ketika membicarakan perundungan dan pelecehan seksual, perhatian sering kali hanya diarahkan kepada korban dan pelaku. Padahal, ada kelompok lain yang tidak kalah penting, yaitu siswa yang melihat atau mengetahui kejadian tersebut.
Saksi dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika seorang siswa memilih tidak ikut menertawakan korban, tidak menyebarkan video atau foto yang mempermalukan teman, memberikan dukungan kepada korban, dan berani mencari bantuan dari orang dewasa yang dapat dipercaya, ia sebenarnya sedang membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Begitu pula dengan siswa yang pernah melakukan tindakan yang menyakiti orang lain. Edukasi bukan semata-mata untuk memberikan hukuman, tetapi juga membantu siswa memahami konsekuensi dari perilakunya dan belajar membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Sekolah Aman, Siswa Lebih Nyaman Belajar
Lingkungan belajar yang aman bukan hanya tentang terbebas dari kekerasan fisik. Sekolah yang sehat juga merupakan tempat ketika siswa dapat bertanya tanpa takut dipermalukan, berteman tanpa takut direndahkan, serta menyampaikan ketidaknyamanan tanpa takut disalahkan.
Pencegahan perundungan dan pelecehan seksual membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, guru, orang tua, mahasiswa, dosen, dan siswa perlu membangun komunikasi yang terbuka. Edukasi juga perlu dilakukan secara berkelanjutan karena pemahaman mengenai batas diri, relasi sehat, keamanan digital, dan keberanian mencari pertolongan merupakan keterampilan yang perlu terus diperkuat.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes. bersama mahasiswa, edukasi mengenai pencegahan perundungan dan pelecehan seksual diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang hanya disampaikan dalam satu kegiatan. Lebih dari itu, edukasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari perubahan cara siswa memandang pertemanan, menghargai batas pribadi, dan memperlakukan orang lain.
Pada akhirnya, menciptakan sekolah yang aman tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari berhenti menertawakan teman yang dipermalukan, tidak ikut menyebarkan konten pribadi, berani mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman, serta berani berkata, “Saya lihat kamu tidak baik-baik saja. Saya akan membantu.”
Karena sekolah yang aman bukan hanya tempat untuk mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga tempat untuk belajar menjadi manusia yang mampu menghargai dan melindungi satu sama lain.
Pakem Media Pakem Media