
Menjalani hidup dengan diabetes mellitus bukan hanya tentang mengingat jadwal minum obat atau datang ke fasilitas kesehatan saat kontrol. Bagi banyak pasien, perawatan diabetes berlangsung setiap hari dan sebagian besar dilakukan di rumah. Di sinilah keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting.
Mulai dari mengingatkan jadwal obat dan kontrol, membantu menyiapkan pola hidup yang lebih sehat, menemani berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atas persetujuan pasien, hingga memberikan dukungan ketika pasien merasa lelah menjalani perawatan. Dukungan sederhana tersebut dapat membantu pasien menjalankan perawatan dengan lebih teratur.
Sebaliknya, pendampingan yang tidak tepat juga dapat menjadi tantangan. Terlalu banyak mengingatkan, menyalahkan, atau mengambil alih seluruh keputusan perawatan justru dapat membuat pasien merasa kehilangan kemandirian.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Indonesia Maju (UIMA) menyelenggarakan “Optimalisasi Peran Keluarga dalam Pencegahan Komplikasi Pasien Diabetes Mellitus” di RW 07 Kelurahan Lenteng Agung pada 7 Juni 2025.
Kegiatan yang dipimpin oleh Ns. Agus Purnama, S.Kep., MKM., M.Kep., Sp.KMB bersama tim ini melibatkan 30 warga dengan fokus utama memperkuat pemahaman keluarga mengenai perawatan diabetes dan bagaimana memberikan dukungan sesuai kebutuhan pasien.

Edukasi Disertai Pemeriksaan Gula Darah
Pengabdian masyarakat ini tidak hanya diisi dengan penyampaian materi. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya melalui pemeriksaan gula darah.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk membantu peserta mengenali kondisi kesehatan dan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pemantauan gula darah. Hasil pemeriksaan dapat menjadi informasi awal bagi peserta untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatannya dan, bila diperlukan, berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan gula darah juga menjadi pengantar yang relevan sebelum peserta mendapatkan edukasi mengenai perawatan diabetes. Dengan demikian, peserta tidak hanya mendengar mengenai pentingnya pengendalian diabetes, tetapi juga diajak lebih sadar terhadap kondisi kesehatan yang perlu dipantau secara berkala.
Perlu ditekankan bahwa pemeriksaan gula darah dalam kegiatan ini merupakan bagian dari skrining dan edukasi, bukan sebagai pengganti pemeriksaan atau diagnosis medis. Tindak lanjut tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta dan arahan tenaga kesehatan.
Merawat Diabetes Dimulai dari Rumah
Diabetes yang tidak terkelola dapat berkaitan dengan berbagai komplikasi yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, ginjal, mata, hingga saraf. Karena itu, pengobatan sesuai resep, pola hidup sehat, pemantauan gula darah, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes.
Namun, menjalankan semua anjuran tersebut tidak selalu mudah.
Kesibukan anggota keluarga, perbedaan pemahaman mengenai diabetes, hingga jadwal pengobatan yang belum tercatat dengan baik dapat membuat perawatan sehari-hari menjadi kurang teratur.
Karena itu, edukasi dalam kegiatan ini tidak hanya ditujukan kepada pasien. Keluarga juga diajak memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan pasien dalam menjalani perawatan.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman mengenai diabetes, kepatuhan menjalani pengobatan sesuai resep, pemantauan kesehatan berdasarkan arahan tenaga kesehatan, pentingnya memantau gula darah sesuai anjuran, serta pentingnya melakukan kunjungan kontrol.
Materi disampaikan menggunakan leaflet dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat kembali dibaca oleh peserta ketika berada di rumah.
Membantu Tanpa Mengambil Alih
Salah satu bagian penting dalam edukasi adalah memahami bahwa setiap pasien memiliki kebutuhan yang berbeda.
Ada pasien yang membutuhkan bantuan untuk mengingat jadwal obat. Ada yang lebih membutuhkan teman untuk datang ke fasilitas kesehatan. Ada pula yang mungkin hanya membutuhkan dukungan emosional dari keluarga ketika menghadapi proses perawatan yang panjang.
Dalam sesi ceramah interaktif dan diskusi, pasien serta keluarga diberikan ruang untuk menceritakan kendala yang mereka hadapi di rumah.
Dari sini, pendampingan diarahkan agar keluarga dapat membantu tanpa mengambil alih kemandirian pasien. Misalnya, keluarga dapat membantu membuat pengingat jadwal obat dan kontrol, membantu mengingat jadwal pemeriksaan sesuai anjuran tenaga kesehatan, menemani konsultasi setelah mendapat persetujuan pasien, serta memberikan dukungan tanpa menyalahkan ketika terjadi kesulitan dalam menjalankan anjuran perawatan.
Prinsipnya sederhana: mendampingi bukan berarti mengendalikan.
Keluarga tetap perlu menghormati keputusan pasien dan melibatkan pasien dalam menentukan bentuk bantuan yang memang dibutuhkan.
Mengenali Hal yang Perlu Dipantau
Pencegahan komplikasi juga menjadi bagian dari pembahasan. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan mata, ginjal, dan kondisi kaki sesuai arahan tenaga kesehatan.
Pemantauan gula darah juga dibahas sebagai bagian dari pengelolaan diabetes. Keluarga perlu memahami bahwa frekuensi pemeriksaan dan target pengendalian dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing pasien sehingga perlu mengikuti rencana perawatan yang diberikan tenaga kesehatan.
Keluarga juga perlu mengetahui perubahan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dan kapan harus mencari pertolongan medis. Jadwal pemeriksaan, target pengendalian, maupun penggunaan obat tetap mengikuti rencana perawatan masing-masing pasien.
Pada sesi praktik, peserta dapat diajak menyusun pengingat jadwal obat dan kontrol serta membagi tugas pendampingan secara realistis di antara anggota keluarga.
Dengan cara ini, edukasi tidak berhenti sebagai informasi yang didengar di tempat pengabdian masyarakat, tetapi mulai diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan di rumah.
Pengetahuan Peserta Meningkat 28 Poin
Untuk melihat perubahan pengetahuan peserta, tim melakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta sebelum edukasi berada pada angka 56, kemudian meningkat menjadi 84 setelah edukasi. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 28 poin.
Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mendapatkan edukasi mengenai perawatan diabetes dan peran keluarga dalam pendampingan.
Namun, peningkatan pengetahuan tidak secara otomatis dapat disamakan dengan keberhasilan mencegah komplikasi. Pencegahan komplikasi membutuhkan perubahan perilaku yang berkelanjutan serta pemantauan kondisi klinis dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Karena itu, hasil evaluasi pengetahuan menjadi salah satu indikator awal yang perlu dilanjutkan dengan pemantauan penerapan perawatan di rumah.
Tantangan Ada, Solusi Perlu Dibuat Bersama
Selama pelaksanaan, masih ditemukan beberapa kendala. Tingkat pemahaman pasien dan keluarga mengenai perawatan diabetes belum sama. Waktu anggota keluarga untuk mendampingi pasien juga terbatas. Selain itu, pencatatan jadwal pengobatan dan kunjungan kontrol belum selalu dilakukan secara teratur.
Alih-alih melihat kondisi tersebut sebagai hambatan semata, tim bersama peserta menyusun beberapa langkah tindak lanjut.
Edukasi ulang dapat diberikan menggunakan bahasa sederhana dan leaflet. Keluarga juga didorong untuk menyepakati pembagian tugas pendampingan yang realistis, sementara lembar pengingat dapat digunakan untuk membantu mencatat jadwal obat sesuai resep dan jadwal kontrol.
Koordinasi dengan kader dan tenaga kesehatan juga menjadi bagian dari upaya menjaga agar keluarga tidak berjalan sendiri ketika menghadapi kendala dalam pendampingan.
Pendampingan Tidak Berhenti Setelah Edukasi
Agar manfaat pengabdian masyarakat dapat berlanjut, tim merencanakan pemantauan bersama kader setempat melalui komunikasi pribadi menggunakan WhatsApp atau telepon serta kunjungan rumah sesuai kebutuhan dan persetujuan peserta.
Pemantauan dapat dilakukan satu kali setiap minggu selama empat minggu setelah edukasi, dengan evaluasi akhir pada minggu keempat. Pemantauan tersebut diarahkan untuk melihat apakah rencana pendampingan mulai diterapkan, hambatan apa yang masih muncul, serta apakah keluarga membutuhkan konsultasi lanjutan.
Dokumentasi kegiatan dan hasil evaluasi selanjutnya dapat menjadi bahan untuk melihat capaian program sekaligus memperbaiki pelaksanaan pengabdian masyarakat berikutnya.
Pada akhirnya, mengelola diabetes bukan pekerjaan satu orang. Pasien tetap menjadi bagian utama dalam pengambilan keputusan mengenai perawatannya, sementara keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang membantu pasien menjalani perawatan secara lebih teratur.
Ketika keluarga memahami kapan harus membantu, bagaimana memberikan dukungan, pentingnya pemantauan kesehatan, serta kapan perlu menghubungkan pasien dengan tenaga kesehatan, perawatan diabetes di rumah dapat menjadi lebih terarah.
Sebab, dalam perjalanan panjang mengelola diabetes, dukungan keluarga bukan sekadar tentang mengingatkan obat atau jadwal kontrol. Lebih dari itu, keluarga dapat menjadi lingkungan yang membantu pasien tetap merasa didukung, dihargai, dan memiliki kendali atas perawatannya sendiri.
Pakem Media Pakem Media