Jakarta – Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Seseorang dapat tiba-tiba tidak sadarkan diri, mengalami henti napas, tersedak, kecelakaan, atau kondisi lain yang membutuhkan pertolongan segera. Dalam situasi seperti ini, beberapa menit pertama dapat menjadi waktu yang sangat berharga sebelum bantuan tenaga kesehatan tiba.
Kesadaran inilah yang mendorong Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju (UIMA) untuk memberikan edukasi dan pelatihan Penanganan Kegawatdaruratan Dasar (Basic Life Support/BLS) bagi Masyarakat Awam di Balai Warga RW 03, Kelurahan Duren Sawit, Jakarta.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti oleh 63 peserta yang terdiri atas warga masyarakat, kader kesehatan, stakeholder kelurahan, serta unsur masyarakat lainnya. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai kegawatdaruratan, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung langkah-langkah pertolongan dasar.
Tidak Hanya Tahu, tetapi Harus Siap Bertindak
Selama ini, masyarakat mungkin pernah melihat seseorang mengalami kondisi darurat, tetapi tidak semua orang mengetahui apa yang harus dilakukan. Rasa panik, takut melakukan kesalahan, atau kurangnya pengetahuan dapat membuat seseorang ragu memberikan pertolongan.
Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan prinsip dasar BLS, mulai dari memastikan keamanan lingkungan, memeriksa respons korban, menilai kondisi pernapasan, meminta bantuan, hingga melakukan tindakan pertolongan dasar sesuai kemampuan masyarakat awam.
Tim pelaksana juga menjelaskan bahwa memberikan pertolongan bukan berarti masyarakat harus menggantikan peran tenaga kesehatan. Sebaliknya, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam respons awal, sambil menunggu bantuan profesional datang.
“Yang terpenting adalah masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menemukan kondisi darurat dan tidak hanya berdiri melihat atau menunggu bantuan datang,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan pelatihan tersebut.
Dari Demonstrasi ke Praktik Langsung
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Setelah mendapatkan edukasi, peserta menyaksikan demonstrasi teknik BLS yang diperagakan oleh tim pelaksana.
Peserta kemudian diberi kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan menggunakan alat peraga. Dengan pendampingan dosen dan mahasiswa Pendidikan Profesi Ners, peserta mencoba mengikuti tahapan pertolongan secara langsung.
Suasana pelatihan menjadi lebih interaktif ketika peserta mulai melakukan praktik. Beberapa peserta juga aktif bertanya mengenai tindakan yang tepat ketika menghadapi seseorang yang tidak sadar, tidak bernapas normal, atau mengalami kondisi kegawatdaruratan lainnya.
Pendekatan praktik tersebut penting karena keterampilan BLS tidak cukup hanya dipahami secara teori. Peserta perlu memperoleh pengalaman melakukan tindakan secara langsung agar lebih memahami urutan, teknik, dan koordinasi yang diperlukan dalam situasi kegawatdaruratan.
Simulasi Membuat Peserta Lebih Siap
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kasus kegawatdaruratan. Peserta diberikan gambaran situasi tertentu dan diarahkan untuk menentukan respons yang harus dilakukan.
Melalui simulasi, peserta tidak hanya mengingat materi, tetapi juga belajar mengambil tindakan secara sistematis. Peserta dilatih untuk mengenali kondisi korban, meminta bantuan, serta melakukan pertolongan dasar sesuai kapasitasnya.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan pentingnya kerja sama. Dalam kondisi darurat, pertolongan tidak selalu dapat dilakukan oleh satu orang. Ada yang dapat memberikan pertolongan, menghubungi layanan bantuan, meminta orang lain mengambil peralatan yang diperlukan, atau mengamankan lingkungan sekitar.
Membangun Masyarakat yang Tanggap Kegawatdaruratan
Keterlibatan 63 peserta dari berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Kader kesehatan, warga, stakeholder kelurahan, dan unsur masyarakat lainnya diharapkan dapat menjadi bagian dari jejaring kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.
Kader kesehatan memiliki peluang untuk membantu menyebarluaskan informasi yang telah diperoleh kepada masyarakat. Sementara itu, keterlibatan unsur lingkungan dan warga dapat memperkuat koordinasi apabila suatu saat terjadi kondisi kegawatdaruratan di lingkungan sekitar.
Pelatihan ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu keperawatan secara langsung kepada masyarakat. Dosen dengan bidang keahlian kegawatdaruratan dan kesiapsiagaan komunitas bersama mahasiswa terlibat dalam proses edukasi, demonstrasi, pendampingan praktik, hingga evaluasi kegiatan.
Dari Balai Warga untuk Kesiapsiagaan Bersama
Pelaksanaan pelatihan BLS di RW 03 Kelurahan Duren Sawit menunjukkan bahwa edukasi kegawatdaruratan dapat dilakukan secara dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Balai warga tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman praktik mengenai respons awal pada kondisi kegawatdaruratan. Keaktifan peserta dalam mengikuti edukasi, diskusi, praktik, dan simulasi menjadi bagian dari proses membangun kesiapsiagaan masyarakat.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat yang berada paling dekat dengan korban juga memiliki peran penting dalam memberikan respons awal yang aman dan sesuai kemampuan.
Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami prinsip dasar BLS, diharapkan lingkungan tempat tinggal menjadi lebih siap menghadapi kondisi darurat sambil menunggu bantuan tenaga kesehatan. Satu pengetahuan, satu keterampilan, dan satu respons yang tepat dapat menjadi bagian penting dalam upaya memberikan pertolongan ketika keadaan darurat terjadi.
Pakem Media Pakem Media