Bogor, 16 Desember 2024 — Menjaga kesehatan payudara tidak harus selalu dimulai dari rumah sakit. Kesadaran untuk mengenali kondisi payudara sendiri dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara mandiri. Pesan inilah yang menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes., dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju (UIMA) bersama mahasiswa di Posyandu Pisang C Tegal Gundil.
Kegiatan bertajuk “Upaya Peningkatan Kesehatan Reproduksi Perempuan dengan Deteksi Dini Kanker Payudara melalui Self Breast Exam di Posyandu Pisang C Tegal Gundil” dilaksanakan sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perempuan.
Berawal dari Kepedulian terhadap Kesehatan Perempuan
Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian. Perubahan pada payudara terkadang tidak langsung disadari oleh seseorang, terutama apabila tidak terbiasa memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri.
Karena itu, pengetahuan mengenai tanda dan perubahan pada payudara menjadi hal penting. Perempuan perlu mengetahui bahwa perubahan seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan kulit, perubahan pada puting, maupun keluarnya cairan yang tidak biasa perlu diperhatikan dan, bila ditemukan, dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Melalui kegiatan PkM ini, Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes. memberikan edukasi kepada peserta mengenai kesehatan reproduksi perempuan, kanker payudara, faktor risiko, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, serta pentingnya deteksi dini.
“Deteksi dini bukan berarti seseorang langsung mendiagnosis dirinya sendiri. SADARI merupakan salah satu cara untuk mengenali perubahan pada payudara sehingga apabila terdapat kelainan, seseorang dapat segera mencari pemeriksaan lebih lanjut kepada tenaga kesehatan,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan edukasi.
Bukan Sekadar Mendengarkan, Peserta Diajak Mempraktikkan
Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga diajak melihat secara langsung demonstrasi Self Breast Exam atau Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) menggunakan media peraga.
Tim pelaksana memperagakan tahapan pemeriksaan secara sistematis. Peserta kemudian mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan kembali tahapan yang telah dijelaskan dengan pendampingan dari dosen dan mahasiswa.
Pendekatan ini membuat suasana kegiatan menjadi lebih interaktif. Peserta dapat bertanya ketika menemukan bagian yang belum dipahami dan memperoleh penjelasan secara langsung.
Melalui demonstrasi dan praktik, peserta tidak hanya memperoleh informasi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana melakukan pemeriksaan payudara secara mandiri.
Mengenali Tubuh Sendiri adalah Langkah Awal
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan adalah pentingnya mengenali kondisi normal payudara masing-masing.
Setiap perempuan dapat memiliki kondisi payudara yang berbeda. Oleh sebab itu, kemampuan mengenali perubahan yang tidak biasa menjadi bagian penting dari kesadaran kesehatan.
Peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai perubahan yang perlu mendapatkan perhatian, termasuk benjolan atau penebalan, perubahan ukuran maupun bentuk payudara, perubahan pada permukaan kulit, perubahan puting, serta keluarnya cairan yang tidak normal.
Namun, adanya perubahan pada payudara tidak selalu berarti kanker. Karena itu, peserta juga diingatkan untuk tidak melakukan diagnosis sendiri. Apabila menemukan perubahan yang mencurigakan atau tidak biasa, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Posyandu sebagai Ruang Edukasi Kesehatan Perempuan
Pemilihan Posyandu Pisang C Tegal Gundil sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Posyandu merupakan salah satu ruang yang dekat dengan masyarakat dan memiliki potensi besar sebagai tempat penyampaian informasi kesehatan.
Dalam kegiatan ini, kader Posyandu turut berperan dalam membantu pelaksanaan kegiatan dan mendukung penyampaian pesan kesehatan kepada masyarakat.
Keterlibatan kader menjadi penting karena edukasi kesehatan tidak hanya membutuhkan kegiatan satu kali. Pengetahuan yang telah diperoleh peserta perlu terus diingatkan dan diperkuat agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya kolaborasi antara perguruan tinggi, kader, dan masyarakat, edukasi kesehatan diharapkan dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan.
Antusiasme Peserta Menjadi Bagian Penting Kegiatan
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme dalam mengikuti penyampaian materi, demonstrasi, praktik, serta sesi diskusi dan tanya jawab.
Peserta aktif mengajukan pertanyaan dan mengikuti praktik pemeriksaan payudara menggunakan media peraga. Interaksi tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat terhadap informasi mengenai kesehatan payudara dan deteksi dini kanker payudara.
Kegiatan juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh klarifikasi mengenai hal-hal yang sebelumnya belum dipahami, termasuk kapan melakukan SADARI, bagaimana tahapan pemeriksaan, serta apa yang harus dilakukan apabila menemukan perubahan pada payudara.
Dari Edukasi Menuju Kebiasaan Sehat
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini tidak hanya diarahkan agar peserta memahami materi pada saat kegiatan berlangsung. Lebih jauh, edukasi diharapkan dapat mendorong terbentuknya kebiasaan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara.
Pengetahuan akan menjadi lebih bermakna apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, peserta didorong untuk mengenali kondisi payudaranya, melakukan SADARI sesuai edukasi yang telah diberikan, serta tidak menunda konsultasi kepada tenaga kesehatan apabila menemukan perubahan yang tidak biasa.
Di sisi lain, kader Posyandu diharapkan dapat ikut memperkuat pesan kesehatan tersebut melalui edukasi dan pengingat kepada masyarakat secara berkala.
Kontribusi UIMA dalam Pemberdayaan Masyarakat
Bagi Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes., kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu keperawatan dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan tidak hanya dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga dalam memberikan edukasi kesehatan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan turut memberikan pengalaman nyata dalam berkomunikasi dengan masyarakat, memberikan edukasi, melakukan pendampingan praktik, serta bekerja sama dengan dosen dan kader Posyandu.
Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan UIMA berupaya berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan reproduksi perempuan.
Menjaga Kesehatan Dimulai dari Kepedulian
Kesehatan payudara merupakan bagian dari kesehatan perempuan yang perlu diperhatikan. Mengenali kondisi tubuh sendiri, memahami perubahan yang perlu diwaspadai, dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan merupakan bagian dari perilaku menjaga kesehatan.
Kegiatan PkM di Posyandu Pisang C Tegal Gundil menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan dapat dimulai dari lingkungan yang dekat dengan masyarakat.
Melalui edukasi, demonstrasi, dan praktik SADARI, perempuan tidak hanya diajak untuk mengetahui, tetapi juga untuk lebih peduli dan mampu mengambil langkah yang tepat ketika menemukan perubahan pada payudara.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh Ns. Rina Afrina, S.Kep., M.Kes., dosen Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju, bersama mahasiswa sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pakem Media Pakem Media