Jakarta, Januari 2025 — Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi bukan selalu menjadi hal yang mudah bagi setiap ibu. Selain membutuhkan pengetahuan dan keterampilan, proses menyusui juga membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Hal inilah yang menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pendampingan Ibu Menyusui dalam Optimalisasi Pemberian ASI Eksklusif melalui Edukasi Berbasis Keluarga” yang dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Indonesia Maju (UIMA).
Kegiatan dilaksanakan di Posyandu wilayah kerja Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, dengan melibatkan 20 ibu menyusui serta kader Posyandu.
Menyusui Bukan Sekadar Memberikan ASI
ASI memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Namun, keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya ditentukan oleh kemauan ibu.
Dalam praktiknya, ibu dapat menghadapi berbagai tantangan selama menyusui. Mulai dari belum memahami posisi dan pelekatan yang tepat, keraguan mengenai kecukupan ASI, kesulitan memerah dan menyimpan ASI perah, hingga berbagai informasi dan mitos mengenai menyusui yang beredar di lingkungan sekitar.
Kondisi tersebut membuat ibu membutuhkan informasi yang tepat sekaligus pendampingan agar lebih percaya diri dalam menjalankan proses menyusui.
Karena itu, edukasi dalam kegiatan PkM ini tidak hanya diberikan dalam bentuk penyampaian materi. Peserta juga diajak berdiskusi, melihat demonstrasi, dan mempraktikkan secara langsung teknik menyusui dengan pendampingan dari tim pelaksana dan kader Posyandu.
Ketika Keluarga Ikut Belajar, Ibu Tidak Berjuang Sendirian
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah pentingnya keterlibatan keluarga.
Suami dan anggota keluarga dapat memberikan dukungan sederhana yang sangat berarti bagi ibu menyusui. Dukungan tersebut dapat berupa memberikan motivasi, membantu pekerjaan rumah tangga, menciptakan suasana yang nyaman, maupun memberikan dukungan ketika ibu mengalami kesulitan selama proses menyusui.
Sebaliknya, kurangnya pemahaman keluarga mengenai ASI eksklusif dapat membuat ibu menghadapi tantangan tambahan. Perbedaan informasi dan pemahaman mengenai kebutuhan bayi juga dapat memengaruhi keputusan ibu dalam mempertahankan pemberian ASI.
Melalui pendekatan edukasi berbasis keluarga, peserta tidak hanya diajak memahami manfaat ASI eksklusif, tetapi juga mengenali bagaimana keluarga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Pesan yang ingin ditekankan sederhana: ibu memang yang menyusui, tetapi keberhasilan menyusui bukan tanggung jawab ibu seorang diri.
Belajar dengan Praktik, Bukan Hanya Mendengarkan
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai ASI eksklusif, manfaat ASI bagi ibu dan bayi, teknik menyusui, pemerahan dan penyimpanan ASI, serta pentingnya dukungan keluarga.
Setelah mendapatkan materi, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik teknik menyusui. Ibu diberikan kesempatan untuk mempraktikkan posisi dan pelekatan menyusui dengan pendampingan dari tim pelaksana dan kader Posyandu.
Pendekatan praktik menjadi bagian penting karena informasi mengenai teknik menyusui akan lebih mudah diterapkan ketika ibu mendapatkan kesempatan untuk mencoba secara langsung dan memperoleh arahan ketika mengalami kesulitan.
Selain itu, kegiatan juga menjadi ruang bagi ibu untuk berdiskusi mengenai pengalaman dan kendala yang mereka hadapi selama menyusui.
Kader Posyandu Ikut Diperkuat
Kegiatan tidak hanya berfokus pada ibu menyusui. Kader Posyandu juga dilibatkan secara aktif dalam proses edukasi dan pendampingan.
Kader memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga dapat berperan sebagai penghubung antara ibu menyusui dan tenaga kesehatan. Dengan keterlibatan kader, informasi yang diberikan selama kegiatan diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan selesai.
Kader juga dapat membantu memberikan informasi dasar, mendampingi ibu, serta mengarahkan ibu kepada tenaga kesehatan apabila ditemukan permasalahan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Membangun Dukungan yang Berkelanjutan
Sebanyak 20 ibu menyusui mengikuti rangkaian kegiatan edukasi, diskusi, demonstrasi, dan praktik. Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan dukungan kader Posyandu sebagai mitra di lapangan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk upaya promotif dan preventif dalam mendukung kesehatan ibu dan anak melalui pemberdayaan masyarakat.
Lebih dari sekadar memberikan informasi mengenai ASI, kegiatan ini berupaya membangun lingkungan yang lebih mendukung ibu menyusui. Pengetahuan yang diperoleh ibu diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sementara keluarga dan kader dapat terus memberikan dukungan sesuai dengan perannya.
Pada akhirnya, keberhasilan pemberian ASI eksklusif bukan hanya tentang seberapa kuat seorang ibu bertahan menghadapi tantangan menyusui. Dukungan dari orang-orang di sekitarnya juga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Melalui edukasi berbasis keluarga dan pendampingan di Posyandu, ibu menyusui diharapkan tidak merasa menjalani proses menyusui seorang diri, tetapi mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Pakem Media Pakem Media