Langit sore di kampus itu berwarna jingga pucat, seperti lelah menyaksikan terlalu banyak teori yang berputar tanpa arah. Raka menutup buku catatannya pelan, masih terngiang kalimat dosennya siang itu.
“Data bukan sekadar angka. Di baliknya ada nyawa.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah mengapa terasa berat. Terlalu berat untuk sekadar ditulis di ujian.
Di ruang diskusi, teman-temannya masih bercakap santai. Ada yang membahas skripsi, ada yang sibuk merencanakan karier di rumah sakit besar di kota. Raka diam. Ia tidak sedang memikirkan nilai. Ia sedang memikirkan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia lihat: kehidupan di balik angka.
Kesempatan itu datang dua minggu kemudian.
Program praktik lapangan membawanya ke sebuah desa di pinggiran kabupaten. Nama desanya sederhana, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Jalanan sempit, sebagian masih tanah. Di kanan kiri, rumah berdiri seadanya. Di belakang rumah-rumah itu, aliran air kecil mengalir keruh, menjadi tempat mandi, mencuci, bahkan kadang untuk buang hajat.
Hari pertama, Raka hanya mengamati.
Hari kedua, ia mulai bertanya.
Hari ketiga, ia mulai mengerti.
Seorang ibu muda, dengan anak kurus di pangkuannya, menjawab dengan nada biasa saja saat Raka bertanya tentang diare.
“Sering, Nak. Tapi ya nanti juga sembuh sendiri.”
Seolah-olah sakit adalah bagian normal dari hidup.
Di posyandu, catatan menunjukkan angka yang tak bisa dianggap remeh. Anak-anak dengan berat badan di bawah standar. Riwayat diare berulang. Sanitasi yang buruk. Air yang tidak layak.
Raka menulis semuanya. Lengkap. Detail. Sistematis.
Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang penting.
Namun perasaan itu mulai retak ketika ia kembali ke kota.
Di ruang rapat kecil kantor kecamatan, ia mempresentasikan temuannya. Suaranya mantap di awal, namun perlahan goyah ketika melihat ekspresi para pejabat di hadapannya.
“Angka stunting di desa ini cukup tinggi,” katanya.
Salah satu aparat tersenyum tipis.
“Data seperti ini sensitif,” jawabnya pelan. “Jangan sampai disalahartikan.”
Raka mengerutkan kening.
“Maksudnya, Pak?”
“Kita sedang mengajukan program bantuan. Kalau citra wilayah kita buruk, bisa jadi malah tidak dapat apa-apa.”
Kalimat itu seperti menampar tanpa suara.
Data, yang ia pikir akan menjadi dasar perubahan, justru dianggap ancaman.
Sejak hari itu, Raka mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Di kota, gedung-gedung tinggi berdiri kokoh. Rumah sakit megah dengan peralatan canggih menjadi simbol kemajuan. Namun di balik itu, laporan-laporan sering kali disusun rapi bukan untuk menggambarkan kenyataan, melainkan untuk menyesuaikan harapan.
Temannya, Andi, suatu malam berkata santai di kantin kampus,
“Rak, kita ini mahasiswa. Jangan terlalu idealis. Yang penting lulus.”
Raka hanya tersenyum tipis.
Ia teringat wajah ibu di desa itu. Tatapan pasrah yang tidak pernah muncul di ruang kuliah ber-AC.
Beberapa minggu kemudian, ia kembali ke desa. Bukan karena tugas, tapi karena rasa yang belum selesai.
Kali ini ia datang tanpa formulir, tanpa target data. Ia datang untuk melihat.
Di sebuah rumah kecil, ia menemukan seorang anak terbaring lemah. Tubuhnya panas, matanya sayu. Ibunya panik, tapi tetap berusaha terlihat tenang.
“Sudah dua hari begini,” katanya pelan.
“Kenapa tidak dibawa ke puskesmas, Bu?”
Ibu itu menunduk.
“Jauh… dan suami saya sedang kerja.”
Raka terdiam. Jarak yang bagi orang kota terasa dekat, bagi mereka bisa menjadi batas antara hidup dan mati.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak mencatat angka. Ia membantu mengantar anak itu ke fasilitas kesehatan terdekat.
Di perjalanan, pikirannya kacau.
Ia mulai memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara utuh di kelas:
bahwa masalah kesehatan bukan hanya soal penyakit, tapi soal akses, ekonomi, kebijakan, dan keberanian untuk melihat kenyataan.
Malamnya, di kamar kosnya di kota, Raka membuka kembali semua datanya.
Angka-angka itu kini terasa berbeda.
Dulu, ia melihatnya sebagai hasil penelitian.
Sekarang, ia melihatnya sebagai cerita manusia.
Ia menyalakan laptop dan mulai menulis. Bukan laporan formal. Bukan skripsi. Tapi sebuah tulisan yang jujur. Tentang desa itu. Tentang air keruh yang diminum. Tentang anak-anak yang sakit. Tentang sistem yang memilih diam.
Ia tahu risikonya.
Tapi ia juga tahu, diam bukan pilihan.
Tulisan itu ia kirim ke media kampus. Lalu ke sebuah platform publik. Tak disangka, respons mulai muncul. Beberapa dosen mendukung. Beberapa pihak merasa tidak nyaman. Ada yang memintanya “lebih berhati-hati”.
Namun ada juga yang datang ke desa itu. Membawa perhatian. Membawa program kecil. Penyuluhan sanitasi. Bantuan air bersih. Tidak besar. Tidak spektakuler. Tapi nyata.
Suatu sore, Raka kembali berdiri di desa itu. Anak yang dulu ia antar ke puskesmas kini sudah bermain di halaman. Ibunya tersenyum saat melihatnya.
“Terima kasih, Nak.”
Raka menggeleng pelan.
Ia tahu, ini belum apa-apa.
Masalahnya masih banyak. Sistemnya masih belum sempurna. Kota dan desa masih berjalan dengan ritme yang timpang.
Namun hari itu, ia mengerti satu hal:
Perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia dimulai dari satu orang yang memilih untuk tidak memalingkan wajah.
Langit sore itu kembali berwarna jingga. Kali ini terasa lebih hangat.
Raka menatap jauh ke arah perbatasan antara desa dan kota. Dua dunia yang berbeda, tapi saling terhubung oleh sesuatu yang sering dilupakan: kemanusiaan.
Ia teringat lagi kalimat dosennya.
“Data bukan sekadar angka.”
Kini ia tahu kelanjutannya, yang tak pernah diucapkan di kelas:
“…tapi juga keberanian untuk memperjuangkannya.”
Dan di antara angka-angka itu, selalu ada nyawa yang menunggu untuk didengar.
Sekarang paham ya bahwa dunia butuh kita alumni sarjana kesehatan masyarakat. Selamat berkiprah alumni UIMA, bangga UIMA. (Kodrat Pramudho)
Pakem Media Pakem Media