Randi Berlian Pratama-NPM(31220000002)-Mahasiswa Psikologi UIMA Semester 6

Benar gak sih, Perilaku merokok itu adalah salah satu bagian dari kebutuhan dalam menjalani kehidupan?? Atau perilaku merokok itu hanya sekedar gaya hidup yang dibutuhkan disaat kita berkumpul dengan teman teman agar terlihat sefrekuensi saja?? Sepertinya, pasti kamu sudah sangat sering dan sudah sangat biasa melihat perilaku merokok yang terjadi pada tempat umum.
Randi Berlian Pratama, Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia Maju, telah melakukan penelitian yang menarik mengenai Perilaku Merokok Yang Terjadi Pada Lingkungan Remaja. Pada penelitian yang dilakukan, telah ditemukan sebuah data bahwa telah terjadi peningkatan perilaku merokok pada anak sekolah usia 13-15 tahun dari 18,3% pada tahun 2016 menjadi 19,2% pada tahun 2019. Kemudian Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15-19 tahun merupakan kelompok perokok terbanyak (56,5%), diikuti oleh usia 1014 tahun (18,4%). Kementerian Kesehatan juga menyatakan bahwa perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya berusia 10-18 tahun, dan kelompok anak serta remaja mengalami peningkatan jumlah perokok yang paling signifikan.
Kepuasan Psikologis sebagai Pendorong Utama juga mempengaruhi sebuah kepuasan psikologis yang berkontribusi sangat tinggi terhadap perilaku merokok remaja, yaitu 40,9%. Remaja merasakan kenikmatan (38,298%), kepuasan (15,957%), dan ketenangan (12,766%) setelah merokok. Hal ini menunjukkan bahwa merokok lebih berkaitan dengan kepuasan emosional daripada aspek rasional seperti risiko kesehatan atau ekonomi.
Sebuah normalisasi Perilaku Merokok menjadikan Fenomena merokok yang menjadi hal yang normal di masyarakat dan dianggap biasa saja dalam interaksi sosial, bahkan tidak menjadi perhatian khusus terkait kesehatan. Normalisasi ini menciptakan “law of effect” dalam perkembangan psikologi manusia, di mana motivasi yang terus-menerus ditampilkan menjadi gambaran perubahan dalam kebiasaan berperilaku sehari-hari. Saat ini, perilaku merokok tidak lagi melihat gender, berbeda dengan dahulu yang dianggap tidak normal jika dilakukan selain oleh pria dewasa. Selain dari pada data survei yang telah ditemukan, Peneliti pun menjelaskan bahwa berdasarkan riset dari beberapa jurnal terdahulu bahwa adanya akses Mudah Rokok. Meskipun pemerintah telah membatasi penjualan rokok untuk usia 18 tahun ke atas, pada kenyataannya, anakanak di lingkungan remaja, bahkan yang belum dikategorikan remaja, sangat mudah mendapatkan rokok.
Dalam sebuah perspektif yang terdapat pada Psikologi Sosial dijelaskan bahwa, perubahan perilaku dapat terjadi berdasarkan adanya gaya hidup yang terjadi pada lingkungan secara berulang dan yang dianggap normal pada kegiatan sehari hari. Hal ini diperkuat berdasarkan sebuah Teori yang di kembangkan pada Teori Perilaku (Behaviorisme) dan Teori Ekologi. Maka dari itu, sebagai manusia yang sadar akan bahaya dari dampak perilaku merokok ini, kita harus memulai suatu mindset atau cara berpikir dalam berkegiatan sehari hari, apabila kita menemukan perilaku yang memang tidak menguntungkan bagi manusia itu adalah suatu dampak yang tidak normal. Sehingga perilaku tersebut menjadi suatu perhatian dan perubahan kebiasaan dalam bersosialisasi di kehidupan sehari hari.
Pada dasarnya, suatu perubahan dalam dampak penyelamatan kesehatan manusia dapat kita mulai sebagai manusia yang sadar. Karena perilaku merokok itu memanglah bukan suatu kebutuhan yang hanya bisa kita dapatkan dari perilaku tersebut. Karena masih banyak lagi cara agar mendapatkan suatu kebutuhan yang ditemukan dari perilaku hidup sehat itu sendiri. Hal ini akan menjadi suatu gaya hidup yang baru, dan cara hidup yang baru untuk kita selalu peduli serta sayang terhadap diri kita terutama pada kesehatan diri. Sayangilah dirimu sendiri, sebelum kamu menyayangi diri orang lain.
Ditulis ulang dari hasil penelitian Randi Berlian Pratama, Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia Maju.
Pakem Media Pakem Media