Rangga Muhammad H-NPM(31220000013)-Mahasiswa Psikologi UIMA Semester 6

Pernah nggak sih kamu buka media sosial Cuma buat iseng aja, tapi justru malah jadi ngerasa minder? Awalnya niatnya Cuma Scroll Tiktok atau Instagram, eh malah kepikiran sendiri. Lihat postingan teman-teman yang kelihatannya Bahagia, punya banyak prestasi, hidupnya seru, dan gayanya keren banget. Sementara kamu ngerasa biasa-biasa aja, bahkan kadang jadi selalu mempertanyakan kepada diri sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Rangga Muhammad Hanafi, Mahasiswa Psikologi dari
Universitas Indonesia Maju, melakukan sebuah penelitian mengenai Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Remaja di Kabupaten Cianjur. Penelitian ini mencari dan membuktikan adanya bahwa media sosial memang bisa memberikan dampak nyata pada Kesehatan mental remaja. Dalam penelitiannya yang melibatkan 50 Remaja di kabupaten Cianjur, ditemukan bahwa semakin sering dan lama mereka menggunakan media sosial, semakin tinggi pula Tingkat stress, kecemasan, dan perasaan tidak percaya diri yang dirasakan. Beberapa remaja juga mengaku merasa tertekan karena merasa harus selalu tampil menarik dan mengikuti tren yang ada di media sosial.
Masalahnya, media sosial sekarang bukan lagi sekedar tempat buat komunikasi, tapi sudah jadi “panggung digital” untuk menunjukan siapa kita. Banyak remaja merasa harus posting foto bagus, ikut challenge terbaru, atau harus selalu terlihat Bahagia afar mendapat banyak like dan komentar. Kalau tidak, ada muncul rasa kecewa, minder, bahkan sedih.
Selain itu, ada juga perasaan takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Banyak remaja yang terus membuka media sosial karena takut tidak tau info terbaru atau takut tidak dianggap “gaul” oleh teman-temannya. Hal ini membuat mereka sulit lepas dari HP, sulit untuk fokus, bahkan sulit juga untuk tidur. Mereka jadi kehilangan waktu untuk hal-hal yang sangat penting seperti belajar, berinteraksi langsung, atau sekedar menikmati waktu sendiri tanpa tekanan sosial. Beberapa dari mereka juga mulai merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanya bagian terbaik dari kehidupan orang lain. Seperti Foto-foto yang dipilih, momen-momen Bahagia, dan pencapaian yang dibagikan belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya. Tapi otak kita selalu cenderung membandingkan, lalu merasa kalah.
Namun, bukan berarti media sosial itu selalu buruk. Media sosial tetap bisa memberikan manfaat seperti mencari informasi, berbagi cerita, atau hiburan asal digunakan dengan bijak. Yang penting adalah bagaimana cara kita mengelolanya, bukan seberapa sering kita online. Remaja perlu lebih mengenali batasannya sendiri. Kalau sudah merasa lelah atau tertekan karena media sosial, itu tandanya perlu istirahat sejenak. Nggak perlu selalu ikut tren atau hidup untuk validasi dari orang lain. Cukup jadi diri sendiri dan fokus pada apa yang membuat kita merasa damai dan Bahagia.
Orang tua, guru, dan lingkungan juga punya peran sangat penting dalam mendampingi remaja ketika menghadapi era digital ini. Dukungan dan komunikasi terbuka sangat dibutuhkan, bukan hanya larangan. Dengan begitu, remaja bisa tumbuh kuat dan sehat secara mental di Tengah tantangan dunia digital.
Pada akhirnya, Kesehatan mental jauh lebih penting daripada sekedar tampilan online. Jangan sampai media sosial yang seharusnya jadi hiburan justru malah menjadi beban. Bijaklah dalam menggunakan media sosial, karena ketenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya ada di dunia nyata.
Ditulis ulang dari hasil penelitian Rangga Muhammad Hanafi, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia Maju.
Pakem Media Pakem Media