

Gunung Padang, situs megalitik terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Kabupaten Cianjur, bukan hanya menyimpan jejak sejarah dan arkeologi, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan kebanggaan masyarakat. Di balik megahnya situs berusia ribuan tahun ini, ada para pengelola yang setiap hari bekerja menjaga, merawat, dan melayani pengunjung agar warisan budaya tetap lestari. Pertanyaan yang menarik kemudian muncul: apakah rasa bangga terhadap budaya bisa membuat para pengelola lebih puas dengan pekerjaannya? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar penelitian saya, Syifa Zaenatul Hamidah, mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia Maju, dalam studi berjudul “Makna Budaya, Rasa Puas: Studi Korelasi antara Persepsi Nilai Budaya dengan Kepuasan Kerja pada Pengelola Situs Cagar Budaya Gunung Padang.”


Penelitian ini melibatkan 22 orang pengelola situs dan menemukan bahwa hampir seluruhnya memiliki persepsi budaya yang tinggi (90,9%) dan kepuasan kerja yang sangat baik (100%). Namun, hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara persepsi budaya dengan kepuasan kerja. Ada beberapa kemungkinan yang menjelaskan temuan ini. Pertama, kepuasan kerja para pengelola lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti kondisi kerja, hubungan sosial, dan dukungan dari pemerintah daerah, bukan semata dari persepsi nilai budaya.
Hal ini sejalan dengan temuan Wicaksono et al (2022) bahwa kepuasan kerja juga ditentukan oleh peran atasan, rekan kerja, serta kebijakan organisasi. Kedua, pengelola Gunung Padang sudah memiliki rasa bangga budaya yang tinggi, tetapi kepuasan kerja mereka lebih terikat pada faktor kesejahteraan praktis, seperti kestabilan pekerjaan dan hubungan sosial yang harmonis. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa tingginya persepsi budaya tidak otomatis meningkatkan kepuasan kerja. Untuk meningkatkan kepuasan kerja pengelola, tidak cukup hanya menekankan pentingnya nilai budaya, tetapi juga perlu memperhatikan faktor kesejahteraan, fasilitas, dan dukungan kerja yang lebih konkret.
Dengan kata lain, budaya memberi identitas dan kebanggaan, namun kepuasan kerja tumbuh ketika ada keseimbangan antara nilai budaya dan kesejahteraan nyata yang dirasakan. Penelitian ini memberi pesan penting bahwa menjaga budaya bukan hanya soal menghargai warisan leluhur, tetapi juga memastikan kesejahteraan para penjaga budaya agar mereka terus bersemangat dalam menjalankan tugasnya.
Bagi saya pribadi sebagai finalis Mojang Jajaka Cianjur 2025, penelitian ini bukan sekadar karya akademik, melainkan bukti bahwa cinta budaya harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap manusia yang melestarikannya. Mojang Jajaka bukan hanya simbol keanggunan, tetapi juga agen psikologis yang berperan menjaga kesejahteraan sosial dan budaya daerah. Dari Gunung Padang kita belajar, bahwa budaya memberi makna, sedangkan kepuasan kerja memberi keberlangsungan, dan keduanya adalah kunci untuk melestarikan jati diri Cianjur di tengah perubahan zaman.


Pakem Media Pakem Media