Kenali Anemia dalam Kehamilan: Edukasi Penting untuk Ibu dan Calon Ibu

Anemia selama kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius di Indonesia. Data menunjukkan bahwa angka kematian ibu hamil yang mengalami anemia mencapai 70%, jauh lebih tinggi dibanding ibu hamil tanpa anemia yang hanya sekitar 19,7% (Amalia, 2018). Selain meningkatkan risiko kematian, anemia juga berdampak pada kesehatan ibu sehari-hari, seperti kelelahan, pusing, sesak napas, dan penurunan energi. Gejalanya bervariasi tergantung tingkat keparahannya, mulai dari ringan hingga berat, dan dapat memengaruhi kualitas hidup ibu hamil.

Jenis anemia yang paling umum pada ibu hamil adalah anemia defisiensi besi. Zat besi diperlukan untuk membentuk sel darah merah, mendukung pembentukan plasenta, dan menunjang pertumbuhan janin. Kebutuhan zat besi selama kehamilan meningkat hingga 200–300% dibanding sebelum hamil, atau sekitar 1040 mg untuk keseluruhan kehamilan (Hariati dkk., 2019).

Melihat kondisi ini, Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Kebidanan Universitas Indonesia Maju (UIMA) mengadakan kegiatan edukasi daring bertema “Kenali Anemia dalam Kehamilan” pada tanggal 8 April 2023, pukul 14.00 WIB melalui Zoom. Kegiatan ini diikuti oleh 211 peserta, yang sebagian besar merupakan ibu hamil dan wanita prakonsepsi, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan mereka mengenai anemia, penyebab, gejala, serta cara pencegahan dan penanganannya.

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan anemia, faktor risiko, tanda dan gejala, pentingnya pemeriksaan rutin, serta asupan nutrisi yang diperlukan selama kehamilan. Selama kegiatan, peserta juga aktif mengikuti sesi tanya jawab sehingga interaksi menjadi lebih dinamis. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 123 peserta (58,29%) memiliki pengetahuan yang baik mengenai anemia, sementara 88 peserta (41,71%) masih memiliki pemahaman yang kurang. Angka ini menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan agar pengetahuan peserta dapat terus meningkat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pencegahan anemia pada ibu hamil dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan zat besi dan asam folat melalui pola makan sehat. Konsumsi protein hewani seperti daging, unggas, telur, dan seafood, sayuran hijau, buah-buahan kaya vitamin C, serta makanan sumber vitamin B12 seperti hati, ikan, dan produk susu sangat dianjurkan (Cunningham, 2013). Selain itu, terapi oral dengan preparat besi seperti ferrous sulfate dapat diberikan sesuai kebutuhan, dengan pemantauan efek samping seperti konstipasi, mual, atau perubahan warna tinja (Proverawati & Asfuah, 2019).

Program edukasi ini tidak hanya bermanfaat saat kegiatan berlangsung, tetapi juga berpotensi menciptakan perubahan perilaku jangka panjang. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai anemia, calon ibu dapat lebih sadar akan pentingnya nutrisi, pemeriksaan rutin, dan gaya hidup sehat selama kehamilan. Tim UIMA berkomitmen untuk terus menggalakkan program ini sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, sehingga tercipta generasi penerus yang sehat dan berkualitas.

Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Tim Kebidanan UIMA berhasil memberikan edukasi yang signifikan, mendapatkan respons positif dari peserta, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia. Meski demikian, perlu dilakukan pengulangan dan penyempurnaan program agar pengetahuan peserta lebih maksimal dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

About evan

Leave a Reply

Your email address will not be published.