Dita Septianti-NPM(31220000007)-Mahasiswa Psikologi UIMA Semester 6

Pernah nggak sih kamu lagi fokus ngerjain tugas, tapi tiba-tiba ngerasa gatel banget pengen buka sosial media? atau pas handphone kamu nggak ada notifikasi apa-apa, eh tapi kamu malah buka dan scroll media sosial. Bahkan, kadang kamu jadi ngerasa cemas atau nggak tenang kalau belum lihat update story dari teman-teman kamu? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Fenomena seperti itu sudah sangat umum terjadi, terutama di kalangan remaja. Dan ternyata, semua itu bisa dijelaskan oleh sebuah kondisi psikologis yang disebut FoMO, alias Fear of Missing Out. Dan yang lebih mengejutkan lagi, FoMO ini bisa jadi penyebab utama kenapa sih kita sulit banget lepasdari media sosial.
Penelitian yang dilakukan oleh Dita Septiani, mahasiswa Psikologi dari Universitas Indonesia Maju, membahas secara mendalam mengenai hubungan antara FoMO dan kecanduan media sosial pada remaja. Penelitian ini ingin melihat seberapa besar rasa takut ketinggalan informasi (FoMO) bisa mendorong seseorang khususnya remaja menjadi kecanduan media sosial. Penelitian ini melibatkan 96 remaja berusia 11–24 tahun yang semuanya adalah pengguna aktif media sosial. Hasilnya menarik banget! Dari 96 responden, mayoritas memiliki tingkat FoMO yang tinggi sebesar 44,8%, dan hal ini sejalan dengan tingginya tingkat kecanduan media sosial pada mereka sebesar 54,2%. Artinya, semakin besar rasa takut seseorang untuk ketinggalan info, cerita, atau momen di media sosial, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk terus menerus online di sosial media dan akhirnya menjadi kecanduan.
Secara statistik, hubungan antara FoMO dan kecanduan media sosial sangat kuat dan signifikan, dengan nilai korelasi 0,797 dan tingkat signifikansi p = 0,000. Angka ini menunjukkan bahwa FoMO bukan sekadar perasaan biasa, tapi punya dampak nyata secara psikologis dan perilaku, terutama terhadap cara seseorang menggunakan media sosial. Jadi, FoMO sebesar itu ya dampaknya? Iya bener banget! FoMO bukan cuma bikin kita kepo. Tapi lebih dari itu, FoMO bisa menimbulkan kecemasan sosial, insecure, dan dorongan kompulsif untuk selalu online. Akibatnya, waktu tidur terganggu, fokus belajar menurun, hubungan sosial di dunia nyata bisa terganggu, bahkan bisa bikin kita makin merasa kesepian. Menurut teori psikologi yang digunakan Dita dalam penelitiannya, FoMO muncul saat kebutuhan psikologis seseorang seperti merasa terhubung, dihargai, dan berdaya tidak terpenuhi. Ketika kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi di dunia nyata, maka kita mencarinya di dunia maya. Tapi sayangnya, dunia maya nggak selalu memberi solusi, malah kadang justru memperburuk perasaan tersebut.
Nggak bisa dipungkiri, kalau media sosial sudah menjadi bagian hidup kita. Tapi saat penggunaannya didorong oleh rasa takut, cemas, dan ketergantungan, maka media sosial bisa jadi jebakan. Penelitian ini jadi pengingat penting buat kita, khususnya generasi muda, untuk lebih sadar dalam menggunakan media sosial. Karena ternyata, yang bikin kita terus-terusan online di sosial media belum tentu karena kita suka, tapi karena kita takut ketinggalan.
FoMO bukan sekadar tren, tapi ini adalah bagian dari dinamika psikologis yang kini makin terasa di era digital. Penelitian Dita Septiani ini memberikan gambaran bahwa ketakutan akan tertinggal informasi bisa berubah jadi kecanduan yang nyata, dan efeknya bisa mengganggu keseimbangan hidup remaja. Media sosial itu hanya alat. Kita yang harus mengendalikan, bukan dikendalikan. Jangan sampai hidup kita berputar hanya untuk tahu apa yang dilakukan orang lain. Karena terkadang, yang paling kita butuhkan bukan melihat dunia orang lain, tapi menyadari apa yang terjadi dalam diri sendiri.
Ditulis ulang dari hasil penelitian Dita Septiani, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia Maju.
Pakem Media Pakem Media