Razqiatunisa-NPM(31220000014)-Mahasiswa Psikologi UIMA Semester 6

Apakah kamu pernah merasa sangat stres saat mencoba menyelesaikan tugas akhir? atau bahkan kamu merasa bingung harus mulai darimana? Tenang kamu gak sendirian kok, banyak mahasiswa mengalami hal yang sama!
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Razqiatunisa, dengan seorang mahasiswa semester 8 berinisial S yang kisahnya mungkin sangat relate dengan kamu. S merasakan stres akademik yang signifikan, terutama saat bergelut dengan skripsinya. Namun, bukan hanya tugas akhir yang menjadi masalah. S mengungkapkan bahwa stresnya sudah dimulai sejak awal perkuliahan, akibat perbedaan latar belakang pendidikan. Bayangkan, dari jurusan IPA di SMA, S harus beradaptasi dengan mata kuliah yang kental dengan ilmu sosial (IPS). Ini seperti tiba-tiba harus bermain sepak bola setelah terbiasa bermain basket!
S merasa “bingung” dan “tidak tahu arahnya harus ke mana” saat pertama kali menyusun skripsi. Perasaan kaget ini sangat wajar, mengingat skripsi adalah karya ilmiah besar pertama bagi banyak mahasiswa. Stres yang dialami S tidak hanya mempengaruhi pikirannya, tetapi juga tubuhnya. Ia mengalami gangguan tidur, perubahan pola makan, dan penurunan motivasi untuk beraktivitas sehari-hari.
Pernahkah kamu merasakan hal yang sama? Selain tekanan akademik, S juga merasakan beban berat dari ekspektasi orang tua dan lingkungan sekitar untuk segera menyelesaikan skripsi dan lulus tepat waktu. Tekanan eksternal ini seringkali menjadi “beban tambahan” yang memperparah stres. Untungnya, S tidak menyerah begitu saja. Ia menggunakan kombinasi strategi Problem-Focused Coping dan Emotion-Focused Coping secara adaptif. Ia tidak hanya berusaha menyelesaikan masalah secara langsung, seperti dengan mengatur waktu belajar dan membersihkan lingkungan sekitar, tetapi juga mengelola emosinya melalui kegiatan yang menenangkan dan dukungan sosial. ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyeimbangkan kedua jenis strategi coping dapat membantu individu menghadapi stres akademik dengan lebih efektif. S juga menekankan betapa pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Kehadiran keluarga, teman, dan dosen sangat membantu S dalam menghadapi stres.
Meskipun stres akademik tetap terasa saat sendirian, dukungan sosial ini memberikan dampak signifikan. Ini juga membuktikan bahwa kita tidak perlu menghadapi badai sendirian. Pengalaman S ini sejalan dengan banyak penelitian lain. Menurut Fardani et al. (2021), faktor internal seperti pola pikir dan latar belakang pendidikan, serta faktor eksternal seperti tekanan untuk berprestasi dan ekspektasi orang tua, dapat memicu stres akademik. Lubis (2021) juga menegaskan bahwa stres berlebihan dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku mahasiswa.
Penelitian ini menegaskan bahwa stres akademik adalah kondisi psikologis yang umum dialami mahasiswa tingkat akhir. Namun, kabar baiknya, stres ini dapat dikelola! Memahami sumber stres dan memiliki strategi coping yang tepat adalah kunci. Dengan memahami dan menerapkan strategi coping yang tepat, kamu bisa melewati masa-masa sulit ini dengan lebih adaptif dan bahkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.
SEMANGAT!
Ditulis ulang dari hasil penelitian Razqiatunisa, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Indonesia Maju
Pakem Media Pakem Media