Oleh: Ns. Sri Mintasih, S.Kep., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Mat
Ada satu situasi yang hampir selalu membuat orang tua kehilangan ketenangan: melihat anaknya tiba-tiba kejang.
Beberapa detik sebelumnya anak mungkin hanya terlihat demam. Lalu, tubuhnya mendadak menegang, tangan dan kaki bergerak tidak terkendali, pandangan berubah, dan anak tidak merespons seperti biasanya. Bagi orang tua, beberapa menit dalam situasi tersebut bisa terasa jauh lebih lama.
Pada saat itulah muncul berbagai reaksi spontan. Ada yang langsung menggendong anak, memegang tubuhnya erat-erat, mencoba membuka mulutnya, atau memasukkan sendok dan benda lain karena takut lidah anak tergigit. Ada pula yang justru membeku karena tidak tahu harus melakukan apa.
Menariknya, persoalannya bukan selalu karena orang tua tidak pernah mendapatkan informasi kesehatan.
Sering kali, orang tua tahu bahwa demam dapat menyebabkan kejang, tetapi belum tentu tahu bagaimana harus bertindak ketika kejang benar-benar terjadi.
Di sinilah perbedaan antara pengetahuan dan kesiapsiagaan menjadi penting.
Ketika Informasi Tidak Otomatis Menjadi Tindakan
Membaca informasi kesehatan merupakan satu hal. Mengambil keputusan dalam keadaan panik merupakan hal yang berbeda.
Dalam situasi normal, seseorang mungkin dapat mengingat berbagai informasi dengan baik. Namun ketika anak sendiri mengalami kejang, rasa takut dapat membuat kemampuan berpikir menjadi tidak optimal. Orang tua cenderung mencari tindakan yang paling cepat menurut apa yang pernah mereka lihat, dengar, atau percayai.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup dibangun hanya dengan memberikan sebanyak mungkin informasi.
Orang tua justru perlu dibekali informasi yang sederhana, praktis, dan mudah diingat.
Misalnya, ketika anak mengalami kejang, prioritas pertama bukan menghentikan gerakan kejang dengan paksa. Prioritasnya adalah memastikan anak berada di tempat yang aman, menjauhkan benda yang dapat menyebabkan cedera, dan menjaga posisi tubuh anak agar tetap aman. Anak dapat dibaringkan dan diposisikan miring untuk membantu menjaga jalan napas.
Yang juga penting: jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut anak dan jangan menahan gerakan tubuhnya secara paksa. Kedua tindakan tersebut masih sering dianggap sebagai bentuk pertolongan, padahal justru dapat menimbulkan risiko cedera atau tersedak.
Artinya, dalam keadaan darurat, orang tua tidak membutuhkan daftar tindakan yang panjang.
Mereka membutuhkan beberapa tindakan yang benar dan dapat dilakukan dengan segera.
Mitos yang Terlihat Seperti Pertolongan
Salah satu tantangan terbesar dalam edukasi kejang demam bukan hanya menambahkan pengetahuan baru, tetapi juga mengoreksi pengetahuan lama yang sudah dianggap benar.
Selama bertahun-tahun, sebagian masyarakat mengenal praktik memasukkan sendok, kain, atau benda tertentu ke dalam mulut anak ketika kejang. Alasannya terdengar masuk akal: agar anak tidak menggigit lidah.
Masalahnya, tindakan tersebut tidak membuat kejang berhenti.
Sebaliknya, memasukkan benda ke dalam mulut dapat menyebabkan cedera pada mulut atau gigi dan meningkatkan risiko tersedak. Karena itu, edukasi kepada orang tua perlu secara tegas membedakan antara tindakan yang terlihat “aktif menolong” dengan tindakan yang memang aman bagi anak.
Ini menjadi pelajaran penting dalam edukasi kesehatan:
Tidak semua tindakan yang terlihat cepat adalah tindakan yang tepat.
Kadang-kadang, pertolongan terbaik justru berupa tindakan sederhana: menyingkirkan benda berbahaya, menjaga posisi anak, tidak memasukkan sesuatu ke mulut, mengamati kondisi anak, dan mencari pertolongan ketika diperlukan.
Lima Menit yang Perlu Diperhatikan
Ada satu informasi praktis yang penting diketahui orang tua: durasi kejang.
Ketika panik, orang tua sering kali lebih fokus pada gerakan tubuh anak daripada menghitung berapa lama kejang berlangsung. Padahal, informasi mengenai durasi dapat membantu tenaga kesehatan dalam menilai kondisi anak.
Kejang yang berlangsung lebih dari lima menit merupakan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera. Demikian pula apabila kejang disertai kesulitan bernapas, anak tidak segera sadar, atau terdapat tanda lain yang mengkhawatirkan.
Karena itu, ketika anak mulai kejang, salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan orang tua adalah memperhatikan waktu.
Bukan untuk membuat orang tua menjadi tenaga kesehatan.
Melainkan agar ketika bantuan medis diperlukan, orang tua dapat memberikan informasi yang lebih jelas mengenai apa yang terjadi.
Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Kejang Terjadi
Ada satu hal yang sering luput dalam pembicaraan mengenai kejang demam: orang tua baru belajar ketika keadaan darurat sudah terjadi.
Padahal, kesiapsiagaan seharusnya dibangun sebelum keadaan tersebut muncul.
Orang tua dapat mempelajari terlebih dahulu apa itu kejang demam, seperti apa tampilannya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kapan harus mencari pertolongan, serta informasi apa yang perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan.
Dengan demikian, ketika situasi benar-benar terjadi, orang tua tidak perlu membuat keputusan dari nol.
Mereka sudah memiliki semacam “peta tindakan” di dalam kepala.
Inilah yang menjadi dasar pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat “Peningkatan Kesiapsiagaan Orang Tua dalam Penanganan Kejang Demam pada Anak” oleh Ns. Sri Mintasih, S.Kep., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Mat, dengan dibantu oleh mahasiswa, pada tahun 2023.
Pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya menempatkan orang tua sebagai penerima informasi, tetapi sebagai pihak yang perlu memiliki kemampuan untuk merespons kondisi anak secara tepat.
Keterlibatan mahasiswa juga memberikan ruang bagi proses pembelajaran yang bersifat dua arah. Pengetahuan akademik yang diperoleh di lingkungan pendidikan diterjemahkan menjadi edukasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dari “Saya Takut” Menjadi “Saya Tahu Harus Apa”
Barangkali kita tidak pernah benar-benar dapat menghilangkan rasa takut orang tua ketika melihat anaknya kejang.
Dan sebenarnya, tujuan edukasi kesehatan bukan untuk membuat orang tua tidak takut.
Tujuannya adalah membuat orang tua tetap mampu bertindak meskipun sedang takut.
Seorang ibu atau ayah yang melihat anaknya kejang mungkin tetap akan menangis. Tangannya mungkin tetap gemetar. Jantungnya mungkin tetap berdebar.
Tetapi di tengah kepanikan itu, ia tahu bahwa anak perlu ditempatkan di tempat yang aman.
Ia tahu bahwa tubuh anak tidak perlu ditahan.
Ia tahu bahwa tidak ada benda yang perlu dimasukkan ke dalam mulut.
Ia tahu bahwa durasi kejang perlu diperhatikan.
Dan ia tahu kapan situasi tersebut membutuhkan bantuan medis.
Itulah makna kesiapsiagaan yang sesungguhnya.
Bukan tentang seberapa banyak teori yang dapat dihafalkan, tetapi tentang seberapa tepat seseorang dapat bertindak ketika teori tersebut benar-benar dibutuhkan.
Karena Beberapa Menit Tidak Seharusnya Diisi dengan Kepanikan
Kejang demam dapat menjadi pengalaman yang sangat menakutkan bagi keluarga. Namun, ketakutan tidak seharusnya membuat orang tua kehilangan kesempatan untuk memberikan pertolongan yang aman.
Pada akhirnya, edukasi mengenai kejang demam bukan sekadar mengajarkan orang tua tentang sebuah kondisi medis.
Lebih dari itu, edukasi tersebut mengajarkan sebuah keterampilan hidup: bagaimana tetap berpikir ketika situasi tidak berjalan sesuai harapan.
Sebab ketika anak membutuhkan pertolongan, orang tua tidak harus menjadi dokter.
Mereka hanya perlu menjadi orang yang tahu apa yang harus dilakukan, tahu apa yang tidak boleh dilakukan, dan tahu kapan harus meminta bantuan.
Dan sering kali, kesiapan sederhana tersebut dimulai dari satu hal yang terdengar mudah tetapi tidak selalu mudah dilakukan:
jangan panik.
Pakem Media Pakem Media